This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 16 Februari 2014

Pengertian Ahlussunnah Wal-Jama’ah

A. Pengertian Ahlussunnah Wal-Jama’ah

Ahlussunnah Wal-Jama'ah adalah istilah bagi kelompok umat Islam yang dijamin keselamatannya di akhirat oleh Rasulullah J. Istilah Ahlussunnah Wal-Jama'ah ini menjadi rebutan semua kalangan. Setiap kelompok mengklaim dirinya sebagai Ahlussunnah Wal-Jama'ah, sementara kelompok yang lain dianggap sebagai golongan ahli bid'ah yang tersesat dan tidak akan selamat kelak di akhirat. Tidak jarang pula di antara kelompok tersebut menggunakan istilah Ahlussunnah Wal-Jama'ah untuk kepentingan sesaat. Oleh karena itu sebelum menguraikan sejarah Ahlussunnah Wal-Jama'ah, perlu kiranya memberikan penjelasan tuntas tentang definisi dan hakikat Ahlussunnah Wal-Jama'ah secara ilmiah dan akademis, agar diketahui apa sebenarnya Ahlussunnah Wal-Jama'ah, sehingga nantinya dapat diketahui pula siapa sebenarnya Ahlussunnah Wal-Jama'ah.
Secara kebahasaan, Ahlussunnah Wal-Jama’ah adalah istilah yang tersusun dari tiga kata:
Pertama, kata Ahl, berarti keluarga, pengikut atau golongan.
Kedua, kata al-sunnah, yang memiliki dua arti kemungkinan; 1) yaitu segala sesuatu yang telah diajarkan oleh Nabi J, baik melalui perbuatan, ucapan dan pengakuan Nabi J, dan 2) yaitu al-thariqah (jalan dan jejak), maksudnya Ahlussunnah Wal-Jama'ah itu mengikuti jalan dan jejak para sahabat Nabi J dan tabi'in dalam memahami teks-teks keagamaan dan mengamalkan ajaran agama.
Ketiga, kata al-jama’ah, yang secara kebahasaan dapat diartikan dengan sejumlah besar orang-orang yang menjalin dan menjaga kebersamaan dalam mencapai suatu tujuan yang sama, sebagai kebalikan dari al-firqah (orang-orang yang memisahkan diri dari golongannya). Dalam beberapa hadits shahih, Nabi J menyebut kelompok yang selamat dengan nama al-jama'ah. Seperti dalam hadits:
عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ t أَنَّ رَسُولَ اللهِ e قَالَ: أَلاَ إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ، ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ. (رواه أبو داود (3981)، والدارمي (2/241) وأحمد (16329)، والحاكم (407) والآجري في " الشريعة " (18)، وابن بطة في الإبانة (277)، وابن أبي عاصم في السنة (2)، واللالكائي في " شرح السنة " (130). وصححه الحاكم، ووافقه الحافظ الذهبي. وقال الحافظ ابن حجر في " تخريج الكشاف " (ص/63): " و إسناده حسن " .
"Dari Mu'awiyah bin Abi Sufyan tbahwa Rasulullah J bersabda: "Sesungguhnya orang sebelum kamu dari pengikut Ahlil-kitab terpecah belah menjdi tujuh puluh dua golongan. Dan umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua golongan akan masuk ke neraka, dan satu golongan yang akan masuk surga, yaitu golongan al-jama'ah".
Dalam hadits lain, Rasulullah J juga bersabda:
وَعَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ t قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ e: « مَنْ أَرَادَ بُحْبُوْحَةَ الْجَنَّةِ فَلْيَلْزَمِ الْجَمَاعَةَ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ، وَهُوَ مِنَ اْلاِثْنَيْنِ أَبْعَدُ». (رواه الترمذي (2091)، والنسائي في الكبرى (9219)، وأحمد (172) وقال الترمذي: هذا حديث حسن صحيح، وصححه الحاكم : (356).
"Dari Umar bin al-Khaththab t, berkata: "Rasulullah J bersabda: "Barangsiapa yang menginginkan tempat yang lapang di surga, maka ikutilah ajaran al-jama'ah. Karena syetan itu bersama orang yang sendirian. Dan syetan akan lebih jauh dari dua orang."
Dalam segi terminologis, ada lima pendapat tentang makna yang menjadi maksud kata al-jama'ah dalam istilah Ahlussunnah Wal-Jama'ah.
Pertama, maksud kata al-jama'ah dalam istilah tersebut ialah al-sawad al-a'zham(kelompok mayoritas) di antara kaum Muslimin. Hal ini didasarkan pada hadits:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ t يَقُولُ، سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ e يَقُولُ: إِنَّ أُمَّتِيْ لاَ تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلاَلَةٍ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ اِخْتِلاَفًا فَعَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ اْلأَعْظَمِ. رواه ابن ماجه (3950)، وعبد بن حميد في مسنده (1220)، والطبراني في مسند الشاميين (2069)، واللالكائي في اعتقاد أهل السنة (153)، وأبو نعيم في الحلية (9/238)، وصححه الحافظ السيوطي في الجامع الصغير (1/88).
"Dari Anas bin Malik tberkata: "Aku mendengar Rasulullah J bersabda: "Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadinya perselisihan, maka ikutilah kelompok mayoritas."
Dalam hadits ini, Nabi J menerangkan bahwa umat Islam tidak akan bersepakat (berijma') pada suatu kesesatan. Hukum yang menjadi kesepakatan di antara mereka, dapat dipastikan kebenarannya dan tidak akan tersesat dari jalan kebenaran. Namun manakala terjadi perbedaan pendapat di kalangan umat Islam, Nabi J memerintahkan kita agar mengikuti kelompok mayoritas, karena kelompok mayoritaslah yang akan mengikuti jalan kebenaran dan keselamatan. Oleh karena itu, tepat sekali apabila menafsirkan kata al-jama'ah yang harus diikuti oleh kaum Muslimin ketika terjadi perpecahan di kalangan mereka dengan makna al-sawad al-a'zham (kelompok mayoritas).
Kedua, maksud kata al-jama'ah dalam istilah tersebut ialah para sahabat Nabi JHal ini didasarkan pada hadits:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو t قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ e "إِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي". (رواه الترمذي (2565) وقال: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ ).
"Dari Abdullah bin Amr, bekata: "Rasulullah J bersabda: "Sesungguhnya umat Bani Isra'il terpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan umatku akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali satu golongan yang akan selamat." Para sahabat bertanya: "Siapa satu golongan yang selamat itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Golongan yang mengikuti ajaranku dan ajaran sahabatku."
Dalam hadits ini, Nabi J menjelaskan bahwa di antara tujuh puluh tiga kelompok yang berpecah belah di antara umatnya, hanya satu kelompok yang akan selamat, yaitu kelompok yang setia mengikuti ajaran Nabi J dan ajaran sahabatnya. Substansi hadits ini tepat untuk menafsirkan kata al-jama'ah yang harus diikuti oleh kaum Muslimin ketika terjadi perpecahan di antara mereka, dengan generasi sahabat Nabi J, karena kelompok yang selamat adalah kelompok yang mengikuti ajaran Nabi J dan sahabatnya.
Ketiga, maksud kata al-jama'ah dalam istilah tersebut ialah para ulama yang mencapai tingkatan mujtahid. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa kaum Muslimin harus mengikuti pendapat para ulama yang mencapai tingkatan mujtahid dalam memahami teks-teks keagamaan dan dalam melaksanakan ajaran-ajaran agama. Keempat, maksud kata al-jama'ah dalam istilah tersebut ialah kesepakatan kaum Muslimin terhadap suatu hukum keagamaan. Dan secara eksplisit, pendapat ini menyatakan bahwa kata al-jama'ah yang dijamin sebagai kelompok selamat oleh Nabi J dalam hadits-hadits shahih adalah kelompok yang menjadikan ijma' (kesepakatan para mujtahid) sebagai salah satu dasar pengambilan hukum agama. Dan kelima, sekelompok kaum Muslimin apabila bersepakat pada kepemimpinan seseorang.
Beberapa pendapat yang berbeda tersebut apabila diperhatikan dengan cermat, sebenarnya kembali dan bermuara pada arti dan maksud yang sama. Hal ini dapat kita lihat dengan memperhatikan hubungan pendapat yang satu dengan pendapat yang lainnya. Misalnya antara pendapat pertama yang mengatakan bahwa maksud kata al-jama'ah dalam istilah Ahlussunnah Wal-Jama'ah di atas adalah mayoritas kaum Muslimin (al-sawad al-a'zham), jika dihubungkan dengan pendapat kedua yang mengatakan bahwa kata al-jama'ah dalam istilah tersebut adalah kelompok para sahabat Nabi J. Antara keduanya tidak ada perbedaan secara substansial, karena secara riil, mayoritas kaum Muslimin hingga saat ini masih mengikuti ajaran para sahabat Nabi J. Demikian pula jika pendapat tersebut kita hubungkan dengan pendapat-pendapat lainnya. Kita dapati bahwa mayoritas kaum Muslimin secara riil masih mengikuti pendapat dan metodologi para ulama mujtahid dalam memahami teks-teks keagamaan dan mengamalkan ajaran-ajaran agama, dalam menerima ijma' (konsensus) sebagai salah satu dalil dalam pengambilan hukum agama, dan dalam menerima seorang pemimpin yang sesuai dengan ajaran Nabi J dan sahabatnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kelima pendapat tersebut pada dasarnya hanya berbeda secara verbal, tidak secara substansial.

B. Lahirnya Istilah Ahlussunnah Wal-Jama'ah
Pada masa Nabi J dan generasi awal sahabat, istilah Ahlussunnah Wal-Jama'ah belum ada dan belum dikenal di kalangan kaum Muslimin. Karena pada saat itu, kaum Muslimin masih bersatu dan belum lahir kelompok-kelompok yang menyimpang dari ajaran Islam yang murni. Namun kemudian, setelah kelompok-kelompok yang menyimpang dari ajaran Islam yang murni mulai bermunculan pada akhir generasi sahabat Nabi J, seperti aliran Khawarij, Murji'ah, Saba'iyah (Syi'ah) dan Qadariyah, istilah Ahlussunnah Wal-Jama'ah mulai diperkenalkan sebagai nama bagi mereka yang masih setia pada ajaran Islam yang murni dan steril dari ajaran bid'ah yang menyimpang dari kebenaran. Hal ini dapat kita buktikan dengan memperhatikan beberapa riwayat yang menyebutkan bahwa istilah Ahlussunnah Wal-Jama'ah diriwayatkan dari sahabat Nabi J generasi junior (shighar al-shahabah) seperti Ibn Abbas, Ibn Umar dan Abi Sa'id al-Khudri yMisalnya Ibn Abbas t (3 SH-68 H/619-688 M) berkata:
قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ t في قَوْلِهِ تَعَالى : يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوْهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوْهٌ (سورة : آل عمران آية رقم : 106) فَأَمَّا الَّذِيْنَ ابْيَضَّتْ وُجُوْهُهُمْ فَأَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ وَأُولُو الْعِلْمِ، وَأَمَّا الَّذِيْنَ اسْوَدَّتْ وُجُوْهُهُمْ فَأَهْلُ الْبِدَعِ وَالضَّلاَلَةِ. (رواه ابن أبي حاتم في التفسير (3/124) وأبو نصر في الإبانة والخطيب في تاريخ بغداد (3/334) واللالكائي في شرح أصول اعتقاد أهل السنة (1/90)، وابن كثير في التفسير (2/92) والسيوطي في الدر المنثور (2/407).
"Ibn Abbas t berkata ketika menafsirkan firman Allah: "Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram.” (QS. Alu-Imram : 106). "Adapun orang-orang yang wajahnya putih berseri, adalah pengikut Ahlussunnah Wal-Jama'ah dan orang-orang yang berilmu. Sedangkan orang-orang yang wajahnya hitam muram, adalah pengikut bid'ah dan kesesatan."
Pada generasi tabi'in dan ulama salaf sesudahnya, istilah Ahlussunnah Wal-Jama'ahsemakin populer dan dibicarakan oleh ulama-ulama terkemuka, di antaranya:
(  1)  Khalifah yang saleh, Umar bin Abdul Aziz (61-101 H/681-720 M) dalam risalah-nya yang membantah ajaran Qadariyah, telah memberikan penjelasan tentang akidahAhlussunnah Wal-Jama’ah berkaitan dengan qadha' dan qadar Allah.
(  2)  Al-Imam al-Hasan bin Yasar al-Bashri (21-110 H/642-729 M) dalam satu keterangannya tentang posisi Ahlussunnah Wal-Jama'ah.
(  3)  Al-Imam Muhammad bin Sirin (33-110 H/654-729 M) yang pernah mengatakan, “Para ulama dulu tidak pernah mempertanyakan tentang sanad. Akan tetapi setelah terjadinya fitnah, mereka menuntut adanya sanadMaka apabila sanad-nya melalui jalur Ahlussunnah, mereka menerima haditsnya. Dan apabila sanad-nya melalui jalur Ahlul-Bid’ah, mereka menolak haditsnya.”
(  4)  Al-Imam Sufyan bin Sa’id al-Tsauri (97-161 H/715-778 M), yang pernah berkata: “Berilah perlakuan yang baik kepada golongan Ahlussunnah.”
(  5)  Al-Imam Imam Malik bin Anas, pendiri madzhab Maliki, ketika ditanya tentang siapa Ahlussunnah Wal-Jama'ah, beliau menjawab: "Ahlussunnah adalah mereka yang tidak memiliki julukan secara khusus, seperti julukan Jahmiyah, Qadariyah dan Rafidhiyah."
Pada masa periode salaf, istilah Ahlussunnah Wal-Jama'ah dijadikan nama bagi kalangan umat Islam yang mengikuti ajaran Islam yang murni yang diajarkan oleh Nabi e dan sahabat. Sehingga istilah ini menjadi nama bagi kaum Muslimin yang bersih dari ajaran bid'ah seperti ajaran Syi'ah, Khawarij, Qadariyah, Jahmiyah, Murji'ah dan lain-lain, hingga akhirnya istilah ini menjadi nama bagi pengikut dua imam terkemuka, yaitu al-Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari dan al-Imam Abu Manshur al-Maturidi.

C. Sejarah Lahirnya Madzhab al-Asy'ari dan al-Maturidi
Ketika Nabi e diutus, masyarakat Hijaz dan sekitarnya seperti Palestina, Syam, Romawi, Iraq, Persia, India, Afrika dan lain-lain adalah penganut politeis yang memuja unsur-unsur alam seperti berhala, patung-patung, bintang-bintang dan lain-lain. Lalu Nabi ediutus untuk mengajak mereka kepada agama Islam. Nabi e menjelaskan kebenaran dakwahnya dengan berbagai argumentasi dan dalil dari Allah Usehingga tidak ada alasan bagi siapapun untuk menentang dan menyangsikan kebenaran dakwahnya. Nabi emembangunkan akal dan hati manusia dengan metode dan argumentasi yang tidak sulit dijangkau oleh kalangan awam dan tidak dapat ditolak oleh mereka yang cerdas, sehingga dengan suka rela mereka berbondong-bondong mengikuti agamanya. Nabi e mengajarkan mereka cara menyucikan Allah dari segala kekurangan dan sifat-sifat makhluk, cara mengamalkan agama dalam aspek amaliah dan melatih mereka pada keutamaan dan budi pekerti yang luhur. Selanjutnya dakwah Nabi e tersebar luas ke seluruh penjuru. Cahaya hidayahnya menerangi jalan ruhani masyarakat manusia di Timur dan di Barat. Sedangkan mayoritas ajaran yang diterima mereka dari Nabi e adalah menyangkut pengetahuan tentang Allah dan sifat-sifat-Nya serta pengetahuan tentang hukum-hukum amaliah seperti ibadah dan mu’amalah.
Para sahabat seringkali menanyakan kepada Nabi e tentang kebenaran dalam hal akidah dan pengetahuan tentang Allah. Mereka juga menanyakan tentang kebatilan dan keburukan agar dapat menjauhinya. Hudzaifah bin Al-Yaman (w. 36 H/656 M) – t – misalnya berkata:
عَنْ أَبِيْ إِدْرِيسَ الْخَوْلاَنِيِّ أَنَّهُ سَمِعَ حُذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ t يَقُولُ كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ e عَنْ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي. (رواه البخاري 3338).
“Dari Abi Idris al-Khaulani, bahwa dia mendengar Hudzaifah bin al-Yaman berkata: "Orang-orang selalu bertanya kepada Rasulullah e tentang kebaikan. Tetapi aku selalu menanyakan tentang keburukan khawatir terjerumus ke dalamnya.
Nabi e juga menyampaikan bahwa akan lahir sekian banyak aliran yang menyalahi ajaran al-Qur'an dan al-Sunnah. Dalam hal ini Nabi e bersabda: “Umat ini akan berkelompok-kelompok menjadi tujuh puluh tiga kelompok. Tujuh puluh dua akan ke neraka dan hanya satu kelompok yang akan masuk surga yaitu kelompok yang mengikuti ajaran al-jama’ah.
Setelah Nabi e wafat, sekian banyak kelompok bermunculan dalam Islam seperti Mu’tazilah yang disebut dengan kelompok Qadariyah karena paham mereka yang mengingkari qadar. Kelompok Jahamiyah yang disebut dengan Jabariyah (fatalisme) pengikut Jahm bin Shafwan yang berpandangan bahwa manusia tidak memiliki kekuasaan dan inisiatif apa pun terhadap perbuatannya, ia hanya seperti bulu yang terbang di udara dan hanya dapat diombang-ambingkan udara ke mana-mana. Kelompok Khawarij yang menentang Sayidina Ali bin Abi Thalib t dan mengkafirkan pelaku dosa besar. Kelompok Syi’ah yang sangat ekstrim mengkultuskan Sayidina Ali dan anak cucunya dan mengkafirkan para sahabat. Kelompok Murji`ah yang berpandangan bahwa Allah tidak akan menyiksa orang mukmin yang melakukan dosa besar. Kelompok Karramiyah yang berpandangan bahwa Allah ditempati perkara baru (hawadits) dalam Dzat dan perkataan-Nya, dan mereka juga berpandangan bahwa Allah tidak memiliki batas dari lima arah kecuali satu batas dari arah bawah. Kelompok Musyabbihah dan Mujassimah –cikal bakal kelompok Wahhabi dewasa ini– yang mengeluarkan pandangan-padangan tentang Dzat Allah yang tidak dapat dibenarkan oleh dalil agama dan akal seperti menetapkan bahwa Allah itu bergerak, berpindah tempat, memiliki batas, memiliki arah, duduk, mendudukkan Nabi e di sampingnya, terlentang, bertempat dan lain-lain yang mereka serap dari agama dualisme (Majusi) dan politeisme.
Selanjutnya tidak sedikit pula orang-orang yang kreatif dan rajin menyebarluaskan akidah kekafiran di antara kaum Muslimin, menerjemahkan buku-buku filsafat Yunani, buku-buku kelompok zindik (zanadiqah) dan buku-buku agama dualisme Persia, sehingga pengaruh dari penyebaran buku-buku tersebut sangat dahsyat terhadap akidah kaum Muslimin, dan persoalan menjadi kian gawat serius. Sehingga setelah Khalifah al-Mahdi (127-169 H/745-785 M) – khalifah ketiga dari dinasti Abbasiyah - berkuasa, ia memburu kelompok zindik dan melakukan tindakan eksekusi (hukuman mati) terhadap sebagian besar mereka. Ia seorang Khalifah yang sangat konsisten terhadap akidah Ahlussunnah Wal-Jama’ah dan tercatat sebagai Khalifah pertama yang mengeluarkan instruksi kepada para ulama agar menulis kitab-kitab jadal (ilmu kalam) yang membantah pandangan-pandangan kelompok yang menyimpang dari ajaran Ahlussunnah Wal-Jama’ah. Sehingga berdasarkan instruksinya, tidak sedikit para ulama yang menyusun kitab-kitab yang isinya membentangkan dalil-dalil Ahlussunnah Wal-Jama’ah, menghilangkan keserupaan-keserupaan (syubuhatAhlul-Bid’ah, menjelaskan kebenaran dan mengabdikan dirinya kepada agama. Sebelum wafatnya, Khalifah al-Mahdi memberikan wasiat kepada anaknya dan calon penggantinya, yaitu Khalifah al-Hadi (147-170 H/764-786 M) agar memburu kelompok zindik. Sehingga setelah al-Mahdi wafat, Khalifah al-Hadi sangat serius memburu dan melakukan eksekusi terhadap sebagian besar mereka.
Di sisi lain, kelompok-kelompok diluar Ahlussunnah Wal-Jama’ah memiliki sekian senjata argumentasi yang tidak dapat dihadapi kecuali dengan senjata serupa. Sehingga hal tersebut menyeret perhatian para ulama, setapak demi setapak, untuk menghadapi mereka dalam beberapa fase. Karena apabila persoalan akidah yang telah dirusak oleh kalangan ahli bid'ah tersebut dibiarkan begitu saja, maka keraguan terhadap akidah Islam akan dapat mudah menyelusup ke dalam hati kaum Muslimin sehingga persoalan akan menjadi kian serius.

Dalam kondisi gawat itulah, tepatnya setelah tahun 260 Hijriah, dimana kelompok-kelompok ahli bid'ah, seperti Mu'tazilah, Murji'ah, Mujassimah dan lain-lain semakin gencar. Sementara ajaran Ahlussunnah Wal-Jama'ah sangat terancam dan kaum Muslimin berada dalam kondisi kritis yang penanganannya membutuhkan seorang ulama pembaharu (mujaddid) untuk mengembalikan ajaran Islam ke pangkalannya yang benar, ternyata Allah telah menyiapkan dua ulama besar yang akan menjadi panutan mayoritas kaum Muslimin sepanjang masa, yaitu al-Imam Abu Al-Hasan al-Asy’ari dan al-Imam Abu Manshur al-Maturidi. Kedua imam yang agung ini memberikan penjelasan akidahAhlussunnah Wal-Jama'ah yang diajarkan oleh para sahabat Nabi e dan generasi salaf yang saleh penerus mereka, dengan menyampaikan dalil-dalil naqli (tradisional) dan 'aqli(rasional). Keduanya juga menyampaikan bantahan terhadap keserupaan-keserupaan kelompok ahli bid'ah seperti Mu'tazilah, Murji'ah, Syi'ah dan lain-lain dengan bantahan yang sempurna. Lalu metodologi dan pandangan-pandangan beliau berdua dalam menguraikan akidah Ahlussunnah Wal-Jama'ah dan membantah ajaran aliran-aliran bid'ah secara sempurna diikuti oleh mayoritas ulama kaum Muslimin Ahlussunnah Wal-Jama'ah dari pengikut empat madzhab pada saat itu, sehingga mulai saat itu mulailah terjadi pergeseran istilah Ahlussunnah Wal-Jama'ah menjadi istilah Asy'ariyah dan Maturidiyah. Pada akhirnya, pengikut Ahlussunnah Wal-Jama'ah disebut dengan pengikut madzhab al-Asy'ari dan madzhab al-Maturidi.

Sabtu, 15 Februari 2014

Expressions

There are a number of different collections of Islamic terms and common expressions. Here is a collection that I have found to be most useful to explain common expressions and terminology used by Muslims.


ALAYHIS SALAM
'Peace be upon him', a formula used after the name of a prophet Mohammed SAW


ALLAHU AKBAR
The Arabic expression meaning 'Allah is greater.' Also called the takbir


ALLAHU ALAM
An Arabic expression meaning 'Allah knows best'


AMMA BAAD
An expression used for separating an introductory from the main topics in a speech; the introductory being usually concerned with Allahs praises and glorification. Literally it means 'whatever comes after'


ASTAGFURALLAH
The Arabic expression meaning 'I ask forgiveness of Allah'


AUDHU BILLAHI MIN ASH SHAYTAN AR RAJIM
The Arabic expression meaning 'I seek protection in Allah from the accursed satan.'


AZZA WA JAL
A formula used after the mentioning the name of Allah meaning 'Mighty and Majestic is He'


BARAKALLAH FIK
An expression which means 'May the blessings of Allah be upon you.' When a muslims wants to thank another person, he uses different statements to express his thanks, appreciation and gratitude. One of them is BarakAllah


BISMILLAH AR RAHMAN AR RAHIM
The basmala. 'In the name of Allah, the all Merciful the all Compassionate.'
[this is also translated as in the name of Allah most gracious most merciful]


FI AMANALLAH
Valedictory phrase meaning 'In Allahs protection'


FI SABILILLAH
The Arabic expression meaning 'In the way of Allah', 'For the cause of Allah' [also used to mean 'for the love of Allah']


AL HAMDU LILAH WA SHUKRU LILLAH
The Arabic expression meaning which means 'Praise belongs to Allah and all thanks to Allah'


HASBALA
The Arabic expression, 'Hasbunallah wa nimalwakil' meaning 'Allah is enough for us and an excellent guardian'


HAWQALA
The Arabic expression, 'la hawla wa la quwwata illa billah' which means 'There is no power nor strength save (expect) by Allah'


INNA LILLAHI WA INNA ILAYHI RAJIUN
This is something which a muslim expresses when he is afflicted by a misfortune, the meaning of which is 'We are from Allah and to Him are we returning.' It is taken from an ayat (verse) from the Quran (ch 2 vs 156).
[this is usually said upon hearing of the death of an individual]


INSHALLAH
The Arabic expression meaning 'If Allah wills'
[this is usually said when referring to a situation in the future e.g. inshAllah I will go to the grocery shop tomorrow etc]


ISTIGHFAR
To ask the forgiveness of Allah, especially by saying, Astagfuralah, 'I seek the forgiveness of Allah'


ISTITHNA
Exception, saying 'InshAllah', 'If Allah wills'


JALLA JALALUH
The formula said after the name of Allah meaning 'Great is His Majesty'


JAZAKALLAHU KHAIRAN
This is a statement of thanks and appreciation to be said to a person who does a favour. Instead of saying 'shukran' (thanks), this phrase is used. It means 'May Allah reward you with good.


KARAM ALLAHU WAJHAHU
'May Allah honour him', a formula used when Ali ibn Abi Talib (RadiAllahu Ta'ala anhu) is mentioned


LABBAYK
'At your service', the talbiya or call of the pilgrim to his Lord in the hajj.

[the full talbiya is 'LabbaykAllah huma Labbayk, LabbaykAllah sharee kalala Labbayk, innal hamda, wa naimata lakawulmulk la shareekala' which means "Here I am O Lord, here I am, Oh Allah, here I am. Here I am. You have no partner. Here I am. Surely all praise, grace and dominion is yours, and you have no partner."]


LA HAWLA WALA QUWWATA ILLA BILLAH
The meaning of this expression is 'There is no power nor strength save in Allah'. This is said by a muslim when he is struck with calamity, or is taken over by a situation beyond his control.


LI WAJHILLAH
Literally, 'For the face of Allah', meaning in order to obtain the pleasure of Allah, purely for Allah himself.


MA SALAMA
'With peace', a formula for ending letters


MASHALLAH
A phrase literally meaning 'What Allah wishes', and it indicates a good omen
[example of usage, I get an A in a test, my mother would say MashAllah]


MALWANA
'Our master', a term of respect
[usually used in the context of referring to the Prophet Mohammed SAW, also however used in the context of referring to a learned individual e.g. scholar or imam, a concept I am not too keen on supporting and Allah knows best]


RABBANA WA LAKAL_HAMD
'Our Lord, Praise if yours', said after rising from ruku after saying 'sami Allahuliman hamidah'
[which means 'Allah listens to the one who praises him']


RADIYALLAHU ANHA
The formula 'May Allah be pleased with her' used after a female companion
[usually abbreviated as RA or RAA]


RADIYALLAHU ANHU
This is an expression to be used by muslims whenever a name of a companion of the Prophet Muhammed is mentioned or used in writing. IT means 'May Allah be pleased with him'
[usually abbreviated as RA or RAA]


RADIYALLAHU ANHUM
The formula, 'May Allah be pleased with them', used after a group of companions
[usually abbreviated as RA or RAA]


RAHIMAHULLAH
The formula, 'May Allah have mercy on him'


ASSALAMU ALAYKUM
'Peace be upon you' the greeting of the muslim
[the reply is 'wa alaikumus salam' which means 'and peace be upon you. The fuller version reads, 'assalam u alaikum wa rahmatulahi wa baakatuhu' which means 'peace be upon you and the blessings and mercy of Alllah' the reply is 'wa alaikumus salam wa rahmatulahi wa baakatuhu']


SALLAHU ALAYHI WA SALLAM
'May Allah bless him and grant him peace', the formula spoken after the mentioning of the Prophet Muhammed Mohammed SAW
[usually the following two sets of abbreviations are used for this phrase (pbuh) which means 'peace be upon him' and is the technical reply for all Prophets or (saws) the correct suffix when referring to the Prophet Muhammed Mohammed SAW]


SAMI ALLAHU LIMAN HAMIDAH
'Allah heard him who send praise to Him', said by someone praying when he rises from ruku (unless he is following an imam in prayer)
[if he is following an imam in prayer he says 'Rabana wala kalhamd' only]


SAYYIDUNA
'Our Master', a term of respect
[usually used to refer to the Prophet Muhammed Mohammed SAW, however many people use it to refer to learned man / scholar, a practise I am not keen on - and Allah knows best]


SUBHANALLAH
'Glorified is Allah.' To honour Allah andmake Him free from all (unsuitable evil things) that are ascribed to Him, (or 'Glorified be Allah')


SUBHANAHU WA TA'ALA
'Glorified is He and exalted,' an expression that muslims use when the name of Allah is pronounced or written
[this us usually abbreviated as (swt)]


TA'ALA
'Exalted is He', an expression used after the name of Allah is mentioned
[i.e. Allah Ta'ala meaning, Allah, exalted be He]


TAAWWUDH
Saying, 'I seek refuge in Allah...' (audhu billahi minash shaitan nirajeem)


TABARAKALLAH
The formula 'Blessed is Allah'


TAHMID
Saying the expression 'alhamdulillah', which means 'Praise belongs to Allah'


TAKBIR
Saying 'Allahu akbar', which means 'Allah is Great'


TALBIYA
Saying 'Labbayk', which means 'At your service' during the hajj


TAMJID
Glorifying Allah


TARDIYA
Saying one of the expressions which begin with 'radiyallahu....'


TASBIH
Glorification, saying 'SubhanAllah', which means 'Glory be to Allah'


TASHMIT
Uttering a prayer for the sneezer which thes the form, 'yarhamuk Allah' which means 'may Allah have mercy on you'
[when a person sneezes he says, Ahamdulillah (Praise be to Allah), a person who hears the sneeze says 'yarhamuk Allah' and the sneezer replies 'Yahdikumul-lah wa Yuslih balakum' which means 'May Allah give you guidance and improve your condition.']


WAJHULLAH
'The face of Allah', meaning for the sake of Allah, irrespective of any reward in this life, purely for Allah'

The Prophet's Expressions And Sayings


Say "Bismillah" (in the name of Allah) when doing something.
Say "Assalamu Alaikum" (peace be on you) when meeting a Muslim.
Say "Wa'alaikum Assalam" (peace be on you too) in reply.
Say "Insha Allah" (if Allah wills) when hoping to do something.
Say "Subhan Allah" (glory to Allah) when praising something.
Say "Ma'sha Allah" (what Allah likes) in appreciation.
Say "Fi Aman Allah" (in protection of Allah) when seeing someone off.
Say "Jazak Allah Khairan" (may Allah give you the best reward) to thank someone.
Say "Tawakkal-tu-Allah" (rely on Allah) to solve a problem.
Say "Tawkkalna-Alai-Allah" (we have put our trust in Allah) when you wait for a problem to be solved.
Say "La Ilaha Ill-Allah" (there is no god but Allah) when getting up in the morning.
Say "Al-Hamdu Lillah" (praise be to Allah) when you sneeze.
Say "Yarhamuk Allah" (may Allah bless you) when you hear someone sneeze.
Say "Aameen" (accept our prayer) when joining a duaa.
Say "Ya Allah" (O Allah) when in pain or distress.
Say "Rahmah Allah" (Allah have Mercy on him) when you see someone in distress.
Say "Astagh-firu-Allah" (O Allah forgive me) to be sorry for a bad action.
Say "Na'uzhu-bi-Allah" (when we seek refuge in Allah) to show your dislike.
Say "Inna Lillah" (we are for Allah) when you hear about the death of a Muslim.
Say "Fe Sabeel Allah" (in/for Allah's cause/way) when you give charity/help people.
Say "Atqaa Allah" (fear Allah) when you see someone doing a bad deed.
Say "Allahu Yahdika" (may Allah guide you) to forbid sombody to do something indecent.
Say "Hayyak Allah" (Allah maintain your life) when you greet someone.
Say "Allah Aalam" (Allah knows best) when you say something you are not sure of.
Say "Tabarak Allah" (blessed be Allah) when you hear a good news.
Say "Hasbi Allah" (Allah will suffice me) when you are in a difficult situation.
Say "Azhak Allah Sinnaka" (May Allah keep you cheerful) when you seek another Muslim with cheerful countenance.

Ref: Dictionary of Religious Terms by Dr. Abdullah Abu Eshy & Dr. Abdullah Latif. (Faculty of Arabic and Social Sciences; Islamic University of Imam Mohammad Ibn Saud)

Some Important Islamic Words Translation / Meaning

 

Bismillahi Rahmaan Irraheem 
in the name of allah the most compassionate most merciful


Alhamdulillahi Rab Alaalameen
praise 2 Allah lord of the worlds



InshAllah
if Allah wills


Jazakallahu Khayrun
may Allah reward you


Wa Alaykum Salaam Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh
peace be on u & Allah's mercy and his blessings


Subhanallah
glory 2 Allah


La Ilaha Ila Allah
no god but Allah


Assalaamu Alaykum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuhu
peace b upon u n mercy of allah n his blessings


Allahu Akbar
Allah is the greatest

Some Important Islamic Sentences


When Sneezing
Yarhamukallah- May Allah bless you (The one who hears the sneezer sneezing  )

Yahdikumullah- May Allah guide you (The sneezer to the one who hears them sneeze  )

Greeting another Muslim

As salamu alaykum wa Rahmatullahi wa Barakatuh. 
Translation:
May the peace of Allah descend upon you and His Mercy and Blessings.


When salaam is conveyed (when some conveys salam to you on another's behalf).

Alayka wa alay-his salaamu wa Rahmatullahi wa Barakatuh.
Translation:
Upon you and upon him be the peace of Allah, His mercy and blessings.


Before a meal

Bismillahi wa 'ala baraka-tillah.
Translation:
With Allah's name and upon the blessings granted by Allah (do we eat).


After having a meal

Alham do lillah hilla-thee At Amana wa saquana waja 'alana minal Muslimeen.
Translation:
All praise is due to Allah who gave us food and drink and who made us Muslims.


Dua for ZamZam (Holy Water)

Allah humma Innee As alooka 'ilman naa fee-ow wa Rizq-ow waa See-ow wa Shee-faa amm min Kooll-lee daa-een.
Translation:
O Allah, I ask You to grant me beneficial knowledge, abundant sustenance and cure from all diseases.


Before wudhu (ablution)

Allahumma-gh fir-lee dhan-bee wawass si'lee fi dari wa bariklee fi rizq.
Translation:
O Allah Forgive my sins, make my home accommodating and grant me abundance in my livelihood


After wudhu

Allahummaj 'al-ni minat-tow-wa beena waj-alni minal muta-tah-hireen.
Translation:
I testify that there is no deity except Allah; He is One and has no partner. And I testify that Muhammad (Sallallahu alayhi wasallam) is His servant and apostle.


When entering the masjid (mosque)

A'uthu bil-Lahil 'atheemi wa biwajhi-hil kareemi wasultaani-hil qadeemi minash-shaytaanir rajeem.
Translation:
I seek protection from Allah, The Sublime, and I seek the protection of His Merciful Self and of His Eternal Kingdom against the accursed devil.


When someone is critically ill

When someone is so critically ill that there is no hope for his recovery, under no circumstances should he (or she) pray for his (or her) death. But if one must, then one should recite the following dua:

Allah-humma ah-yini ma kaanatil hayaatu khairall-lee wa tawaff-fani i-dha kaanatil wa faato khai-rall-lee.
Translation:
O Allah, keep me alive so long as it is in my best interest and give me death when it is in my best interest.


When visiting the sick

La ba'sa tahoorun inshaa-Allah. La ba'sa tahoorun inshaa-Allah. 
Translation:
No need to worry. It (this sickness) is a means of cleansing from sins. No need to worry. It (this sickness) is a means of cleansing from sins.


Dua taught to a new muslim

Allahummagh fir-lee warr hamnee wah-dini warr zuq-ni.
Translation:
O Allah, forgive me, have mercy on me, guide me aright and grant me sustenance.


Reaching the top of an incline

Allahumma lakash-sharafu 'ala kull-lee shara-few walakal hamdu 'ala kull-li haalin.
Translation:
O Allah, all sublimity is for You at every incline and all praise is for You at all times under all conditions.


Repentance dua

Whenever a person commits any sin, he/she should immediately offer repentance to Allah, saying the following dua. 

Allahumma In-nee a-toobu ilayka minha la ar-ji-u ilayhaa abada.
Translation:
O Allah, I repent before You for all my sins and I promise never to return to the same (again).


Upon awakening

Alhamdulillah-hillathee ah-yana ba'da ma ama tana wa ilayhi nushoor.
Translation:
Many thanks to Allah who gave us life after having given us death and (our) final return (on the Day of Qiyaamah (Judgement)) is to Him.


When undertaking a journey

Subhanalla-thee sakh-khara-lana haatha wa-ma kun-na lahoo muqrineena wa inna ila Rabbina la-mun-qali-boon.
Translation:
Glory be to Him (Allah) who has brought this (vehicle) under our control though we were unable to control it. Sure, we are to return to our Lord.



DUA BEFORE STUDYING

Allahumma infa'nii bimaa 'allamtanii a'allimnii maa yanfa' unii. 
Translation:

O Allah! Make useful for me what You taught me and teach me knowledge that will be useful to me.

Allahumma ijal leesanee 'amiran bi thikrika wa qalbi bi khashyatika. 
Translation:

O Allah! Make my tongue full of Your remembrance, and my heart with consciousness of You.


DUA AFTER STUDYING

Allahhumma inni astaodeeuka ma qara'tu wama hafaz-tu.
Faradduhu 'allaya inda hagati elayhi.
Innaka 'ala ma-tasha'-u qadeer wa anta hasbeeya wa na'mal wakeel.
 
Translation:

O Allah! I entrust You with what I have read and I have studied. (O Allah!) Bring it back to me when I am in need of it. (O Allah!) You do whatever You wish, and You are my Availer and Protector and the best of aid.


DUA WHILE STUDYING SOMETHING DIFFICULT

Allahumma la sahla illama ja-'altahu sahla wa anta taj 'alu al hazana etha shi'ta sahlan. 
Translation:

O Allah! Nothing is easy except what You have made easy. If You wish, You can make the difficult easy.


DUA FOR ANXIETY

Allahumma inni a'oodhoo bika minal-hammi walhuzni, wal-'ajzi wal-kasali wal-bukhli wal-jubni, wa dal'id-dayni wa ghalabatir-rajaal.
Translation:

O Allah! I seek refuge in You from anxiety and sorrow, weakness and laziness, miserliness and cowardice, the burden of debts and from being oppressed by men.


DUA FOR DISTRESS

Allahumma rahmataka arjoo falaa takilnee ilaa nafsee tarfata 'aynin wa aslih-lee sha'nee kullahu, laa ilaha illa anta.
Translation:

O Allah! It is Your mercy that I hope for so do not leave me in charge of my affairs even for a blink of an eye and rectify for me all of my affairs. None has the right to be worshipped except You

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More