Minggu, 09 Februari 2014

MUQODDIMAH





FORMULA ILMU HISAB

Oleh : Abdul Muid Zahid



MUQODDIMAH


الحمد لله الذي رفع السموات بغير عمد ترونها, الذي جعل الشمس ضياء والقمر نورا وقدره منازل لتعلموا عدد السنين والحساب. صلوات الله وسلامه على خاتم النبين سيدنا محمد القائل الشهر يكون تسعة وعشرين ويكون ثلاثين فإذا رأيتموه فصوموا وإذا رأيتموه فأفطروا فإن غم عليكم فأكملوا العدة, أما بعد

Segala puji bagi Alloh yang telah melimpahkan rohmatnya kepada kita semua sehingga kita bisa berkumpul di majelis ini. Sholawat dan salam tak lupa kami sampaikan kepada Penutup para nabi, junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW.

Mengingat makin langkanya ahli-ahli hisab di negeri kita tercinta ini dan  keengganan santri mupun siswa untuk mempelajarinya dengan alasan sulitnya pelajaran ilmu hisab, padahal belajar ilmu hisab adalah tergolong fardlu kifayah, maka penulis terdorong untuk merubah paradigma tersebut dengan memperkenalkan Formula Ilmu Hisab yang mudah dimengerti baik oleh kalangan para santri pondok maupun para siswa akdemika.

Apa yang penulis ungkapkan di buku ini bukanlah penemuan penulis akan tetapi hanyalah menyalin dari buku/kitab astronomi baik yang klasik maupun modern yang mana kebanyakan masih berbahasa asing (Arab/Inggris). Rumus algoritma hisab di buku ini sudah dalam bentuk formula sehingga bisa langsung diaplikasikan menggunakan kalkulator scientific maupun program Excel.

Semoga buku ini bermanfaat bagi kita semua dan penulis khususnya sehingga kelak bisa di download di akhirat

Gresik, 16 Sya’ban 1433 H. 
BAB I
ILMU HISAB, ILMU NUJUM, HUKUM MEMPELAJARI ILMU HISAB,
SEJARAH ILMU HISAB, TOKOH TOKOH HISAB INDONESIA, KLASIFIKASI HISAB


Secara garis besar ilmu perbintangan dibagi menjadi dua.

1.      Ilmu Falak (Astronomi) atau lebih dikenal oleh kalangan ilmuan Islam dengan sebutan Ilmu Hisab.
2.      Ilmu Nujum atau biasa disebut Astrologi.

ILMU HISAB

Hisab berasal dari bahasa arab yang berarti menghitung. Ilmu hisab disebut juga Astronomi, dari bahasa Yunani (astro=bintang; nomos=ilmu ) yakni ilmu perbintangan. Hisab juga biasa disebut dengan Falak artinya tempat jalannya bintang (garis edar benda-benda langit).

Firman Alloh didalam Al-Qur’an

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ. (الأنبياء 33)

Artinya : Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (Al-Anbiya’ 33)

لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ.(يس 40)
Artinya : Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (Yaasin 40)

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ. (يس 38)

Artinya : Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (Yaasin 38)

Ilmu hisab adalah salah satu ilmu yang mempelajari perhitungan gerak benda-benda langit berdasarkan garis edarnya. Benda-benda langit yang dimaksud adalah matahari, bulan, planet dan lain-lainnya. Ilmu hisab yang akan kita bahas disini hanya sebatas ilmu hisab yang berhubungan dengan Ibadah-ibadah syar'I, yakni sekitar perjalanan matahari dan bulan yang notabene berhubungan dengan waktu sholat fardlu, penentuan arah qiblat, gerhana bulan maupun matahari serta awal bulan qomariyah.

Firman Alloh didalam Al-Qur’an
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ. (البقرة 189)

Artinya : Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji. (Al-Baqoroh 189)

أَلَمْ تَرَ إِلَى رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ الظِّلَّ وَلَوْ شَاءَ لَجَعَلَهُ سَاكِنًا ثُمَّ جَعَلْنَا الشَّمْسَ عَلَيْهِ دَلِيلًا (الفرقان 45)
Artinya : Apakah kamu tidak memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang; dan kalau dia menghendaki niscaya Dia menjadikan tetap bayang-bayang itu, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu, (Al-Furqon 45)

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْءَانَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْءَانَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا (الإسراء 78)

Artinya : Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat). (Al-Isro’ 78)

ILMU NUJUM

Sedangkan Ilmu Nujum atau disebut juga Astrologi adalah ilmu yang mempelajari tentang hubungan kejadian-kejadian di bumi dengan posisi dan pergerakan benda-benda langit seperti matahari, bulan, planet maupun bintang. Ilmu nujum sudah berkembang sejak sekitar 4000 tahun yang lalu dimulai dari Mesopotania sebuah negeri di Timur Tengah lalu berkembang ke Eropa, Amerika serta Asia

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan maka astrologi pun turut berkembang. Pada awalnya astrologi dan astronomi merupakan satu kesatuan ilmu, namun pada abad 17 astrologi mulai dipisahkan dari astronomi dikarenakan metode yang digunakan para astrolog tidak mengikuti kaidah-kaidah ilmiah. Didalam ilmu astrologi gerak-gerik manusia terkondisikan oleh gerak peredaran bintang-bintang di langit, menurut para ilmuan ini tidak bisa dimengerti dan tidak bisa dibuktikan secara empirik. Bahkan di Barat astrologi tidak hanya mendapat perlawanan dari para ilmuwan tapi juga gereja karena dianggap melanggar doktrin agama Kristen.

Termasuk di dalam ilmu nujum ini adalah Primbon Jowo, dimana didalamnya ramalan-ramalan nasib, hari baik, hari naas, nogo dino, dan lainnya. Ramalan tersebut biasanya berdasarkan hitung-hitungan neptu hari lahir atau terjadinya peristiwa atau berdasarkan jumlah nama dalam huruf abajadun dan tidak berdasarkan kaedah-kaedah ilmiah seperti hisab gerhana matahari. Ada banyak buku primbon jowo yang sekarang banyak beredar, diantaranya, Ramalan Joyoboyo, Betajemur Adamakna, Kunci Betaljemur, Ajimantrawara, dan lain-lainya.

Ilmu hisab dalam arti ilmu nujum itulah yang haram dipelajarinya, dalam arti mempelajari untuk dipercayai, kalau tidak untuk dipercayai maka hukumnya makruh.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ فِيْمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Artinya : Dari Abu Hurairah berkata, Rosululloh SAW bersabda "Barang siapa mendatangi tukang ramal (jawa : juru bade) atau dukun kemudian membenarkan apa yang dikatakannya, maka yang demikian itu mengingkari terhadap apa yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW.

HUKUM MEMPELAJARI ILMU HISAB

Ilmu hisab erat kaitannya dengan ibadah-ibadah syar'iyah seperti sholat, zakat, puasa, haji. Dengan ilmu hisab kita bisa menentukan arah qiblat, mengetahui hak waris jika diantara pewaris dan ahli waris meninggal dalam waktu yang hampir sama.

Bagaimana hukumnya mempelajari ilmu hisab?.

  1. Wajib jika ilmu hisab tersebut berhubungan dengan waktu-waktu sholat, arah qiblat, jatuh temponya zakat serta awal bulan. Fardlu ain jika tidak ada yang menguasi ilmu hisab dan fardlu kifayah jika diantara kita sudah ada yang bisa ilmu hisab.

  1. Sunnah jika berhubungan dengan cuaca buruk, baik di darat maupun di lautan.
  2. Haram jika bersifat ramalan semata seperti meramal nasib seseorang, meramal akan datangnya hujan atau angin puyuh dengan tanpa sebab-sebab yang ilmiyah. Apabila memprediksi datangnya hujan berdasarkan adanya tanda-tanda seperti mendung dan lainnya-lainnya maka tidak haram.


SEJARAH ILMU HISAB

Ilmu hisab atau falak, merupakan ilmu yang sudah tua, yang dikenal oleh manusia, bangsa-bangsa mesir, mesopotamia, babilonia dan tiongkok, sejab abad ke-20 sebelum masehi telah mengenal dan mempelajari ilmu falak ini. yang dikenal dengan ilmu perbintangan. Menurut suatu riwayat, pembagian sepeken (seminggu) atas tujuh hari, adanya sejak lebih dari 5000 tahun yang lalu

Pada bagian awal sejarahnya, astronomi hanya pengamatan dan ramalan gerakan benda di langit yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Kemudian sekitar abad ke-12 SM, di negeri Tiongkok, ilmu falak telah banyak mengalami kemajuan-kemajuan. mereka telah mampu menghitung kapan akan terjadinya gerhana, serta menghitung peredaan bintang-bintang.

Sekitar abad ke-4 SM, di negeri Yunani yang berada di zaman keemasannya ilmu pengetahuan, ilmu falak telah mendapat kedudukan yang sangat penting dan luas.

Pada abab ke-2 Masehi, seorang ahli bintang di Iskandaria (mesir) keturunan Yunani, yang bernama Claudius Ptolomeaus (90-168 M.) telah berhasil menghimpun pengetahuan tentang bintang-bintang dalam suatu naskah yang disebut Tabril Magesthi. Naskah ini kemudian tersebar keseluruh dunia dan dijadikan dasar sebagai pedoman ilmu perbintangan selanjutnya. Ptolomeaus berpendapat, bahwa bumi tidak bergerak dan bumi dikelilingi oleh  bulan, matahari dan planet-planet lainnya. Kemudian, sekitar tahun 325 Masehi, naskah itu diperluas oleh Theodoseus Keizer di Roma dan pada abad ke-9, naskah itu telah disalin orang ke dalam bahasa arab.

Umat Islam pertama kali terlibat secara aktif dibidang ilmu falak pada zaman Khalifah Umaiyah. Tokoh ilmu falak yang terkenal ialah Khalid bin Yazid Al-Amawi (meninggal 85H/704 M). Beliau dikenal dengan nama Hakim Ali Marwan.

Di zaman Abbasiah, Khalifah Abu Jaffar Al-Mansor (754-775) adalah khalifah yang pertama memberi perhatian kepada kajian ilmu falak. Baginda mengeluarkan banyak belanja untuk penyelidikan dalam bidang ilmu falak, mendirikan sekolah astronomi di kota Baghdad. Khalifah sendiri termasuk, termasuk salah seorang ahli astronomi. Di bawah pemerintahan pengganti-penggantinya, Harun Al Rasyid dan Al Ma’mun sekolah itu menghasilkan karya-karya penting, teori-teori kuno diperbaharui, beberapa kesalahan Ptolomeus diperbaiki. Hasil observasi yang dilakukan oleh sekolah di Baghdad telah dicatat dalam tabel yang diperiksa dengan teliti.

Pada saat itu, kitab kitab astronomi dari Yunani banyak diterjemahkan kedalam bahasa Arab dan ditindaklanjuti dengan penelitian-penelitian yang akhirnya menghasilkan teori-teori baru. Dari sini muncul tokoh hisab di kalangan umat Islam yang sangat berpengaruh, yaitu Al-Khwarizmi dengan Kitab al-Mukhtashar fi Hisab al-Jabr wa al-Muqabalah. Buku ini sangat mempengaruhi pemikiran cendekiawan–cendekiawan Eropa dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Robert Chester pada tahun 535 H/ 1140 M dengan judul Liber algebras et almucabala, dan pada tahun 1247 H/ 1831 M diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Frederic Rosen.

Perkembangan kajian ilmu falak berkembang pada zaman khalifah Al-Mansor. Usaha menterjemahkan buku Sdihanta dari bahasa Sanskrit ke Bahasa Arab dilakukan oleh Mohammad Al-Fazari yang kemudian ia diberi judul “Al-Sindhindin Al-Kabir”. Buku ini menjadi panduan utama kepada orang-orang arab dalam mengkaji ilmu falak hingga ke zaman Al-Makmun.

Mohammad Al-Fazari merupakan orang Islam yang pertama mencipta Astrolabe (jam matahari untuk mengukur tinggi dan jarak bintang). Buku ini telah disalin ke bahasa Latin pada abad pertengahan oleh Johannes de Luna Hispakusis. Buku terjemahan ini telah digunakan oleh universitas-universitas Eropa untuk mengejar Ilmu Bintang.
Dari sinilah orang-orang Barat pertama kali mengetahui benda-benda di cakrawala.

Tokoh-tokoh Ilmu Falak Islam di zaman Abbasiah lainnya ialah Abu Sahl bin Naubakh, Ali bin Isa, Thabit bin Qurrah, Al-Battani. Di zaman Al-Makmun juga telah didirikan sebuah observatorium yang digunakan untuk mengukur daya cahaya matahari. Di zamannya juga ahli falak berjaya mengukur lingkaran bumi di sebuah observatorium yang didirikan di Bukit Gaisun di Damsyek. Di zamannya juga observatorium juga didirikan di Bukit Qaisun. Di Damsyik. Di zamannya juga telah diterjemahkan Alomagest karangan mengenai Ptolemeus ke bahasa Arab. Ahli falak Islam juga telah mengamati equinox, gerhana, bintang berekor (komet) dan lain-lain

Di samping itu Al-Battani (wafat kira-kira 930 M / 317H) telah melakukan penyelidikan tentang perbintangan sejak tahun 877 hingga 918M dan bukunya yang telah disalin ke bahasa Latin disusun semula dalam bahasa Arab oleh Nallino (tahun 1903M). Al-Battani telah membagi sehari menjadi 12 jam yang digunakan sekarang oleh tukang-tukang jam di Eropa. Beliau juga telah berjaya mengkalkulasi setahun sama dengan 356 hari, 5 jam 46 saat dan 24 detik.

Al-Battani menduduki tempat tertinggi di kalangan Ahli Bintang dan dikatakan peranannya di kalangan umat Islam sama dengan peranan Ptolemeus di kalangan orang-orang Yahudi. Di zaman-zaman seterusnya lahir tokoh-tokoh Islam yang meneruskan kajian-kajian yang dilakukan oleh al-Battani dan tokoh-tokoh lain dan telah menghasilkan berbagai penemeuan dalam bidang Ilmu Falak.

Tokoh-tokoh lain yang ikut membangun dan mengembangkan ilmu hisab, diantaranya:

1.      Abu Ma'syar al-Falaky (272 H/ 885 M) menulis kitab yang berjudul Haiatul Falak.
2.      Abu Raihan al-Biruni (363-440 H/973-1048 M) yang hidup di zaman Sultan Mahmud al-Ghaznawi dengan kitabnya Qanun al-Mas'udi, al-Athar al-Baqiah yang diterjemah-kan kedalam bahasa Inggris oleh Dr. Sachan
3.      Nasiruddin at-Tusi (598-673 H/1201-1274 M) yang hidup di zaman Hulagu Khan seorang Raja Monggol dengan karya monumentalnya at-Tadzkirah fi 'Ilmi al-Haiah,
4.      Abdurrahman Ibnu Abu Al- Hussin Al Sufi (Ibnu Sufi),
5.      Abu Yousouf Yaqub Ibnu Ishaq al-Kindi (Al Kindi),
6.      Abu Abdullah Mohammad Ibnu As-Syarif Al-Idrisi (Al-Idrisi),
7.      Mohammad Taraghay ibnu Shah Rukh as-Samarqondi (Ulugh Beg) (797-853 H/1394-1449 M) yang menyusun Zij Sulthani.
8.      Umar al-Khayyam dan Abdul Rahman al-Hazimi yang hidup di zaman Kerajaan Turki Saljuk.

Karya-karya monumental tersebut sebagian besar masih berupa manuskrip dan kini tersimpan di Ma'had al-Makhtutat al-'Arabiy Kairo-Mesir.

Dari tokoh-tokoh ilmu hisab Islam tersebut, yang termasyhur adalah Abu Abdullah Muhammad Ibn Musa Al-Khawarizmi (770-840 M) atau yang dikenal dengan sebutan Al Khawarizmi. Ilmuwan yang berjasa besar dalam memajukan ilmu pengetahuan ini lahir di Khawarizm (Kheva), kota di selatan sungai Oxus (kini Uzbekistan) pada tahun 770 M. Kedua orang tuanya kemudian pindah ke sebuah tempat di selatan kota Baghdad (Irak), ketika ia masih kecil. Al-Khawarizmi hidup di masa kekhalifahan bani Abbasiyah, yakni Al Makmun, yang memerintah pada 813-833 M. Dialah yang memplopori pembuatan Rubu' al-Mujayyab yang dikembangkan oleh Ibnu Shatir dari Syiria (abad ke 11).        

Astronom muslim lainnya yang sangat berjasa dalam penemuan rumus Trigonometri adalah Abul Wafa Muhammad bin Muhammad bin Yahya bin Ismail bin Abbas al-Buzjani. Ia terlahir di Buzjan, Khurasan (Iran). Trigonometri berasal dari kata trigonon = tiga sudut dan metro = mengukur. Ini adalah adalah sebuah cabang matematika yang berhadapan dengan sudut segi tiga dan fungsi trigonomeri seperti sinus, cosinus, dan tangen.

Di antara sederet ulama dan ilmuwan Muslim, hanya 24 tokoh saja yang diabadikan di kawah bulan dan telah mendapat pengakuan dari Organisasi Astronomi Internasional (IAU). Ke-24 tokoh Muslim itu resmi diakui IAU sebagai nama kawah bulan secara bertahap pada abad ke-20 M, antara tahun 1935, 1961, 1970 dan 1976. salah satunya Abul Wafa.

Kebanyakan, ilmuwan Muslim diabadikan di kawah bulan dengan nama panggilan Barat. Abul Wafa adalah salah satu ilmuwan yang diabadikan di kawah bulan dengan nama aslinya.

TOKOH TOKOH HISAB INDONESIA

Dalam perkembangannya ilmu hisab banyak dikuasai oleh para ulama, termasuk ulama–ulama nusantara. Banyak tokoh-tokoh hisab di bumi nusantara ini yang berjasa besar terhadap perkembangan hisab di Indonesia. Diantara tokoh-tokoh tersebut yaitu :

1.      Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Ulama kelahiran Agam Sumatera Barat ini berjasa besar mengembangkan hisab di Indonesia di abad 19-20 M. Karya beliau yang masyhur adalah al-Hussab dan Alam al-Hussab serta Raudhatul Hussab fi A'mali Ilmil Hisab. Beliau wafat di Makkah pada tahun 1334 H./1916 M.

2.      KH. Achmad Badawi, Kuaman Yogyakarta, pengarang kitab Djadwal Waktu Sholat se-lama2nja dan kitab Tjara Menghitoeng Hisab Haqiqi Tahoen 1361 H, Hisab Haqiqi, dan Gerhana Bulan.

3.      KH. Manshur bin Abdul Hamid, Ulama hisab kelahiran Jakarta ini bernama lengkap Muhammad Manshur bin Abdul Hamid bin Damiri bin Abdul Muhid bin Tumenggung Tjakra Jaya ( Mataram, Jawa). Karya beliau yang mashur adalah Sulamun Nayyiraini dan Mizanul ’Itidal. Kedua kitab sampai sekarang banyak dipelajari di dalam pesantren pesantren salaf. Data data didalam kitab tersebut masih menggunakan system Abajadun.

4.      Kyai Abu Hamdan Abdul Jalil al-Kudusi dengan kitabnya yang terkenal Fathur Raufil Mannan.

5.      Syeh Alamuddin Muhammad Yasin al-Padangy dengan karyanya Muhtasarul Muhaddab.

6.      K.H. Zubair Umar Al-Jaelani dari Salatiga dengan kitab Al-Khulashah Al-Wafiyah, Fii Al-Falakiy Bi Jadwaali Al-Lughoritmiyyah.

7.      KH. Ma’shum Ali, Seblak Jombang, Ahli hisab kelahiran Maskumambang Gresik ini bernama lengkap Muhammad Ma’shum bin Ali bin Abdul Jabbar Al-Maskumambangi. Karya beliau dalam ilmu hisab ialah Ad-Durus Al-Falakiyah dan Badi’atul Mitsal. Sampai sekarang kedua kitab ini banyak dipelajari di pesantren-pesantren salaf.

8.      KH. Turaichan Adjhuri Asy-Syarofi, Kudus Jawa Tengah, terkenal dengan Penanggalan Menara Kudusnya.

9.      Saadoe’ddin Djambek, Ahli hisab dari Minangkabau ini terkenal dengan kitabnya yang berjudul 1. Waktu dan Djadwal Penjelasan Populer Mengenai Perjalanan Bumi, Bulan dan Matahari. 2. Almanak Djamiliyah. 3. Perbandingan Tarich. 4. Pedoman Waktu Sholat Sepanjang Masa. 5. Sholat dan Puasa di daerah Kutub. 6. Hisab Awal bulan Qamariyah.

10.  Wardan Diponingrat, K.R.T. Ahli hisab dari Kauman Yogyakarta ini terkenal dengan kitabnya yang berjudul Umdatul Hasib, Persoalan Hisab dan Ru’jat Dalam Menentukan Permulaan Bulan, Hisab dan Falak, dan Hisab Urfi dan Hakiki.

11.  Muhammad Hasan Asy’ari Al-Pasuruani dengan karyanya Muntaha Nataijil Aqwal.

12.  KH. Moh. Kholil Blandongan Gresik dengan karyanya Wasilatut Tullab

13.  KH. Abdul Fattah Kauman Gresik dengan karyanya Mudzakkirotul Hisab

14.  KH. Romli Hasan Kemuteran Gresik dengan karyanya Risalah Falakiyah dan Imla’ Falakiyyah

15.  Ridlwan Sedayu Gresik dengan karyanya Taqribul Maqsud

16.  KH. KH. Noor Ahmad Shadiq bin Saryani al-Jepara Jawa Tengah dengan kitabnya yang masyhur Nurul Anwar.

17.  KH. Zubair Abdul Karim dari Bungah Gresik dengan kitabnya Ittifaqu Dzatil Baini.
18.  KH. Achmad Ghozali, Lanbulan Sampang Madura dengan karang kitabnya : 1. Faidlul Karim, 2. Bughyatur Rofiq, 3. Anfa’ul Wasilah, 4. Irsyadul Murid, 5. Tsamarotul fikar, 6. Taqyidat

19.  Dan lain-lain




KLASIFIKASI HISAB

Secara garis besar perhitungan hisab rukyat awal bulan itu ada dua, yakni hisab Urfi dan Hakiki.

Hisab Urfi berdasarkan pada perhitungan rata-rata dari peredaran Bulan mengelilingi Bumi. Perhitungan hisab Urfi ini bersifat tetap, umur bulan tetap pada setiap bulannya kecuali bulan Dzulhijjah. Bulan yang ganjil; gasal berumur 30 hari sedangkan bulan yang genap berumur 29 hari. Dengan demikian bulan Romadlon sebagai bulan kesembilan (ganjil) dari bulan Hijriyah selamanya akan berumur 30 hari. Sehingga hisab urfi ini tidak dapat digunakan untuk menentukan awal bulan Qomariyah secara syar’i

Dengan kata lain hisab urfi adalah hisab matematik dan bukan hisab astronomik. Termasuk dalam kelompok hisab ini adalah Kalender Jawa Sultan Agung Mataram/kalender Jawa.

Hisab Urfi ini dimulai sejak ditetapkannya oleh Kholifah Umar bin Khottob r.a. pada tahun 17 Hijriyah sebagai acuan untuk menyusun kalender Islam.

Hisab hakiki berdasarkan pada perhitungan peredaran bulan mengelilingi Bumi dan mempertimbangkan posisi bulan/hilal yang sebenarnya terhadap ufuk/horison. Hisab Haqiqi ini terbagi menjadi 3 tingkatan :

1.      Hisab Haqīqī Taqrībī .
2.      Hisab Ңaqīqī Tahqīqī.
3.      Hisab Hakiki Tadqiqi/kontemporer.

1.      Hisab Haqiqi Taqribi :

Metode perhitungan posisi Bulan berdasarkan gerak rata-rata Bulan mengelilingi Bumi, sehingga hasilnya merupakan perkiraan atau mendekati kebenaran(aproksi). Hisab ini kebanyakan berdasarkan acuan data Zeij (tabel astronomi) Ulugh Beik (1449 M) yang berdasarkan teori Geosentris (bumi sebagai pusat tata surya). Secara ilmiah teori ini(geocentris) telah gugur setelah Nicolas Copernicus (1473-1543 M) menemukan teori Heliosentris, bahwa Mataharilah pusat tata surya dan bukan Bumi sebagaimana yang diyakini sebelumnya.

Metode ini perhitungannya hanya menggunakan penjumlahan dan pengurangan sederhana dan  belum menggunakan rumus segitiga bola (spherical trigonometry). Perhitungan tinggi hilal kedua hisab tersebut hanya berdasarkan saat Maghrib dikurangi saat Ijtimak lalu dibagi dua tanpa mempertimbangkan lintasan bulan dan lintang tempat sehingga ketika posisi bulan jauh dari ekliptika tidak sesuai kenyataan di lapangan saat observasi hilal awal bulan hijriyah.

Termasuk hisab haqiqi taqribi adalah :

1.      Sullam an-Nayyiran (سلم النيرين) karya Muhammad Manshur bin Abdul Hamid bin Muhammad Damiri bin Muhammad Habib bin Abdul Muhit bin Tumenggung Tjakra Jaya Al-Batawi.
2.      Fath ar-Rauf al-Mannan (فتح الرؤوف المنان) karya Abu Hamdan Abdul Jalil bin Abdul Hamid al-Kudusi.
3.      Al-Qawa’idul Falakiyyah (القواعد الفلكية) karya Abdul Fattah at-Thukhi al-Falaky Al-Mishri
4.      Asy-Syamsu wal Qamar bi Husban (الشمس و القمر بحسبان) karya Anwar Katsir al-Malangi
5.      Tadzkiratul Ikhwan (تذكرة الاخوان) karya Kyai Dahlan al-Semarangi
6.      Wasilatut Tullab karya (وسيلة الطلاب) karya KH. Kholil Blandongan Gresik
7.      Risalatul Falakiyah (رسالة الفلكية) karya Kyai Romli Hasan Kemuteran Gresik
8.      Jadawilul Falakiyyah (جداويل الفلكية) KH. Qusyairi al-Pasuani
9.      Risalatul Qamarain (رسالة القمرين) karya Kyai Nawawi Muhammad Yunus al-Kediri
10.  Risalatu Syamsil Hilal (رسالة شمس الهلال) KH. Noor Ahmad bin Shadiq bin Saryani al-Jepara
11.  Faidul Karim (فيض الكريم) karya KH. Achmad Ghozali Lanbulan Sampang Madura
12.  Dan lain-lain


2.      Hisab Haqiqi Taqiqi :

Metode perhitungan posisi Bulan berdasarkan gerak bulan yang sebenarnya. Dalam rumus perhitungannya metode ini sudah menggunakan kaedah ilmu ukur segitiga bola atau spherical trigonometry sehingga hasilnya cukup akurat. Metode ini menggunakan tabel-tabel yang sudah dikoreksi dan menggunakan perhitungan yang relatif lebih rumit dari Hisab Tahqiqi Taqribi.

Perhitungan irtifa’ hilal (tinggi hilal), metode ini sudah mempertimbangkan nilai deklinasi bulan, sudut waktu bulan dan lintang tempat dan dikoreksi dengan Parallaks bulan, refraksi (pembelokan cahaya), semi diameter bulan.

Adapun kitab-kitab yang termasuk ke dalam kategori Hisab Haqiqi  Tahqiqi sebagai berikut:

1.      Al-Mathla’us Sa’id (المطلع السعيد) karya Syekh Husain Zaid Mesir
2.      Al-Manahijul Hamidiyyah (المناهيج الحميدية) karya Abdul Hamid Mursi Mesir
3.      Al-Khulashatul Wafiyyah (الخلاصة الوفية) karya K.H. Zubair Umar Al-Jaelani Salatiga
4.      Muntaha Nata’ijil Aqwal (منتهى نتائج الأقوال) karya Muhammad Hasan Asy’ari Al-Pasuruani
5.      Badi’atul Mitsal (بديعة المثال) karya KH. Ma’shum Ali Seblak Jombang
6.      Hisab Haqiqi (حساب حقيقي) karya Ki Wardan Dipo Ningrat
7.      Menara Kudus (منارا قدوس) karya KH. Turaichan Adjhuri Asy-Syarofi
8.      Ittifaqu Dzatil Bain (اتفاق ذات البين) karya KH. Zubair Abdul Karim Bungah Gresik
9.      Nurul Anwar (نور الأنوار) karya KH. Noor Ahmad Shadiq bin Saryani al-Jepara
10.  Irsyadul Murid (ارشاد المريد) dan Tsamarotul Fikar (ثمرات الفكر) karya KH. Achmad Ghozali Lanbulan Sampang Madura
11.  Dan lain-lain



3.      Hisab Haqiqi Tadqiqi :

Disebut juga dengan hisab asri/kontemporer. Metode perhitungan hisab ini sama dengan hisab Haqiqi Tahqiqi akan tetapi sudah menggunakan data yang up to date sesuai dengan kemajuan sains dan teknologi.

Berbasiskan ilmu astronomi modern dengan koreksi dan data-data empirik yang baru serta delta T (angka ralat) dari hasil penelitian para astronom.

Dalam menghitung irtifa’ hilal, metode ini sudah memasukkan unsur refraksi (pembelokan cahaya karena obyek mendekati ufuk), Aberasi (pembiasan cahaya), Dip (perubahan sudut karena faktor tinggi pengamat), kelembaban udara serta kecepatan angin.

Adapun kitab-kitab /metode yang termasuk ke dalam kategori Hisab Haqiqi  Tadqiqi atau kontemporer adalah sebagai berikut:

1.      Astronomical Algorithms, oleh Jean Meeus, Belgia
2.      Accurate Time karya Moh. Odeh ketua ICOP
3.      VSOP87
4.      ELP2000
5.      EW Brown
6.      Almanak Nautika
7.      Staryy Night
8.      Ascript
9.      Astro Info
10.  Ephemeris Hisab Rukyah, oleh Depag RI
11.  Hisab Awal Bulan, oleh Sa’adoeddin Djambek, Jakarta
12.  New Comb, oleh LAMY, Yogyakarta
13.  Irsyadul Murid (ارشاد المريد) karya KH. Achmad Ghozali Lanbulan Sampang Madura
14.  Al-Falakiyah karya Sriyatin Shadiq
15.  Dan lain-lain






BAB II
DASAR DASAR MS EXCEL UNTUK PERHITUNGAN HISAB

Saat ini hampir semua siswa tingkat SD sampai PT sudah menggunakan komputer, baik untuk mengolah kata maupun lainnya. Dari beberapa software pengolah kata, yang paling banyak digunakan adalah Microsoft Word. Sedangkan untuk mengolah data-data numerik maupun perhitungan matematika, kebanyakan menggunakan Microsoft Excel. Dengan menggunakan excel, rumus yang panjang nan rumit akan terselesaikan dengan mudah. Termasuk juga rumus-rumus Hisab-Falak.

Dalam menghitung rumus rumus hisab, kita bisa menggunakan kalkulator FX-4500 PA, FX-350 HB, Karce KC-131, maupun kalkulator scientific lainnya. Akan tetapi akan lebih akurat jika kita menggunakan excel, karena nilai-nilai dibelakang koma yang lebih banyak daripada kita menggunakan kalkulator. Dengan excel kita juga bisa memasukkan rumus rumus hisab yang panjang hampir tanpa batas, tergantung besarnya memori yang terpasang di komputer. Dengan excel pula kita bisa menampilkan hasil perhitungan dengan menggunakan grafik, sehingga bentuk hilal bisa kita tampilkan sesuai dengan persentasi fraction illumination nya.


SEKILAS TENTANG EXCEL 2007

Karena materi-materi yang akan diuraikan di buku ini menggunakan media Microsoft Excel 2007. Sebelum kita memasuki materi hisab, seperti Arah Qiblat, Waktu Sholat, Ijtima’, Irtifa’, serta Gerhana ada baiknya kita mempelajari sedikit tentang seluk beluk Program Microsoft Excel 2007.

Agar kita bisa bekerja dengan Microsoft Excel dengan efektif, maka kita terlebih dahulu memahami sekilas tentang konsep yang dIgunakan oleh Excel. Konsep yang digunakan Excel, secara garis besar hampir sama dengan konsep yang digunakan oleh Lotus 123 pada era O.S. Dos.

1.      Workbook: adalah sebuah file yang terdiri dari beberapa lembar kerja yang disebut dengan Worksheet atau Sheet. Secara default, workbook yang terpasang dalam Excel adalah satu dan satu workbook terdiri dari 3 sheet. Lembar kerja pertama disebut sheet1, lembar kerja kedua disebut sheet2 dan lembar kerja berikutnya disebut sheet3. Dokumen tersebut setelah disimpan disebut File.

2.     


A
B
C
1



2

AFRA

3



4

3456
4250
5



6

1254
7500
7

6000
450
Gambar 1.1

Worksheet: disebut juga dengan Spreadsheet atau Sheet saja adalah tempat untuk mengetik dokumen, baik berupa data maupun rumus. Setiap sheet terdiri dari kolom dan baris, yaitu kolom A sampai kolom IV (256 kolom), dan baris 1 sampai 65536.

3.      Cell/Sel: adalah pertemuan antara kolom dan baris, contoh: tulisan AFRA berada pada kolom B baris kedua, dengan demikian disebut sel B2,. →Lihat Gambar 1.1. 

4.      Range: adalah kumpulan dari beberapa sel Contoh :
B4..C4 dibaca B4 sampai C4 (yakni B4 dan C4)
B6..C7 dibaca B6 sampai C7 (yakni B6,C6,B7 dan C7)
Untuk lebih jelasnya lihatlah Gambar 1.1.

5.      Name: adalah pemberian nama sell atau range untuk memudahkan aplikasinya kedalam rumus, misalnya cell B2 kita beri nama dengan “dr” maka nanti dalam memanggil cell B2 tidak lagi dengan B2 tetapi cukup dengan dr. Contoh : C3=B1+B2, bisa dengan C3=B1+dr. Untuk memberi nama sebua sel atau range, arahkan pointer ke sel yang dimaksud, lalu klik kanan lalu pilih Name a Range lalu beri nama dengan nama yang kamu inginkan, lalu klik OK.

6.      Fungsi : adalah sebuah rumus yang disediakan oleh Excel untuk menyelesaikan permasalahan (perhitungan).  Ada banyak sekali fungsi-fungsi yang terdapat dalam Excel, akan tetapi yang akan kita bahas di sini hanya sebagian saja yang sering dipergunakan untuk perhitungan hisab.

Saat pertama kita membuka Microsoft Excel 2007, yang terpampang dilayar adalah sebuah Workbook yang terdiri dari 3 worksheet. Worksheet (lembar kerja) pertama disebut sheet1, worksheet kedua disebut sheet2 dan worksheet berikutnya disebut sheet3. Di dalam worksheet itulah kita menulis dan menghitung berbagi rumus yang diperlukan, kemudian menyimpannya dengan nama yang kita kehendaki sebagai nama file yang nantinya akan berexistansi xlsx. Kita juga bisa merubah nama default dari sheet1, sheet2, maupun sheet3 tersebut dengan nama yang kita kehendaki.

Untuk memasukkan data teks atau angka ke dalam worksheet Excel, langsung ketik data kedalam sel. Untuk memasukkan rumus, formula atau fungsi harus didahului dengan “=”, misalnya akan membuat sebuah rumus di sel B5, maka arahkan pointer kel sel B5 lalu ketik = kemudian lanjutkan dengan mengetik rumusnya misal, =15x25+26x10, lalu tekan Enter. Bilangan-bilangan tersebut bisa diganti dengan alamat sel misalnya =A2xB1+C3xA5

Perlu diketahu sebelumnya bahwa penulisan argumen dalam sebuah fungsi di dalam Ms Excel, antara argumen satu dengan  lainnya dibatasi oleh “tanda baca”. Tanda baca yang dipakai tergantung pada pengaturan system operasi Windows yang dipakai. Jika system Windows kita menggunakan standar format Inggris maka separator (pemisah argumen) nya menggunakan tanda baca koma ( , ), dan Jika system Windows kita menggunakan standar format Indonesia maka separatornya titik koma ( ; ).

Jika tanda baca yang dipakai untuk pemisah argumen tersebut tidak sesuai dengan system, maka maksud kita akan rumus tersebut akan berlainan dengan kalkulasi Ms Excel. Dan jika kita sudah punya file dimana pada saat penulisan rumusnya menggunakan pemisah argumen titik koma “;”, kemudian kita buka di komputer lain yang pemisah argumennya menggunakan koma “,” maka pada sebagian kasus akan muncul pesan error “#VALUE!”. Untuk mengatasinya setting system Windows anda dengan format Indonesia dengan langkah sebagai berikut : Start→ Control Panel→ Regional and Language Options lalu klik combo box  preferences dan pilih Indonesian.




HIRARKI PERHITUNGAN

Dalam melakukan perhitungan, operator aritmatik excel memiliki urutan perhitungan (hirarki) sebagai berikut:

  1. ( )
  2. ^
  3. /
  4. x, + dan –

Sehingga dalam menghitung sebuah rangkaian rumus, Excel mendahulukan menghitung rumus yang berada diantara dua tanda kurung, kemudian pangkat, lalu pembagian, kemudian kali, tambah dan pengurangan derajatnya sama.

Contoh :
C5 = 2500 / 2 ^ 3
Maka yang pertama diproses adalah 2^3 = 8 karena urutan pangkat derajatnya lebih tinggi daripada pembagian. Sehingga C5 = 2500 / 8 = 312.5

Bedakan dengan contoh ini : C5 = 2500 ^ 2 / 3
Maka yang pertama diproses adalah 2500^2 = 6250000 karena urutan pangkat derajatnya lebih tinggi daripada pembagian.
Sehingga C5 = 6250000 / 3 = 2083333,333


FUNGSI-FUNGSI FORMULA EXCEL


A
B
C
1

2500

2

4500

3

3500

4

1500

5

2250

6

Jumlah
14250
Gambar 2.1

Berikut ini sebagian fungsi-fungsi yang sering dipakai dalam perhitungan hisab

1. SUM: Adalah fungsi untuk menjumlahkan bilangan dari beberapa sel atau range. Formula : SUM(bilanganawal:bilanganakhir)

Contoh : C6 = SUM(B1:B5)         
Sel C6 = menjumlahkan bilangan dari sel B1 sampai B5,
 hasilnya = 14250. → Lihat Gambar 2.1


A
B
C
1



2

-1234
1234
3

-2345
2345
4

-4567
4567
5



Gambar 2.2


Formula : ABS(bilangan)

Contoh:  C2 = ABS(B2),   
→ Mengabaikan nilai mines dari sel B2 (-1234),  Hasilnya = 1234         
→ Lihat Gambar 2.2


A
B
C
1

23,564
23
2

23,564
23
3



4

-23,564
-24
5

-23,564
-23
Gambar 2.3

3. INTInteger, membulatkan bilangan pecahan dengan pembulatan ke bawah kedalam bilangan bulat terdekat.

Formula : INT(bilangan)

C1 = INT(B1)  = 23
C4 = INT(B4)  = - 24  Lihat Gambar 2.3



A
B
C
1

23,564
23
2

23,564
23.5
3

23,564
23.56
4



Gambar 2.4

4. TRUNC : Truncate, memotong Bilangan dengan desimal tertentu, tanpa ada pembulatan.

Formula = TRUNC(bilangan;Jumlahdesimal)

C1 = TRUNC (B1;0)         = 23
C2 = TRUNC (B4;1)         = 23.5
C3 = TRUNC (B4;2)         = 23.56            → Lihat Gambar 2.4


5. MOD : Modeler, mencari sisa hasil pembagian.

Formula : MOD(ygdibagi;pembagi)    → Lihat gambar 2.5


A
B
C
1
yg dibagi
pembagi
sisa
2
10
4
2
3
10
5
0
4
10
6
4
5



Gambar 2.5

C2 = MOD(A2;B2) = Sisa hasil bagi dari 10 dibagi 4 = 2
C3 = MOD(A3;B3) = Sisa hasil bagi dari 10 dibagi  5 = 0
C4 = MOD(A4;B4) = Sisa hasil bagi dari 10 dibagi  6 = 4


6. ROUND adalah fungsi untuk membulatkan bilangan kedalam nilai desimal tertentu.

Formula :ROUND(bilangan;Jumlahdesimal   → Lihat gambar 2.6


A
B
C
1

125.23
125
2

125.50
126
3

125.23
125.2
4

125.23
125.23
5



Gambar 2.6

C2 = ROUND(B2;0) = 126
C3 = ROUND(B3;1) = 125.2
C4 = ROUND(B4;2) = 125.23

Fungsi ROUND ini hampir sama dengan fungsi TRUNC, perbedaannya, kalau ROUND pembulatan bilangan kedalam nilai  desimal tertentu, sedangkan TRUNC memotong bilangan dengan nilai desimal tertentu.



A
B
C
1

9
3
2

20
4,472135955
3

25
5
4



Gambar 2.7

7. SQRT : Sequare Root, adalah untuk menghitung akar pangkat dua ( ) dari suatu bilangan.

Formula : SQRT(bilangan).

Contoh :      → Lihat gambar 2.7


C1 = SQRT(B1) = akar pangkat dua dari 9 = 3
C2 = SQRT(B2) = akar pangkat dua dari 20 = 4,472135955
C3 = SQRT(B3) = akar pangkat dua dari 25 = 5

8. RADIANS : adalah fungsi untuk merubah nilai sudut dari satuan derajat ke nilai sudut dengan satuan radian. Fungsi Radians sama dengan mengkalikan nilai tersebut dengan PI()/180.

Formula : RADIANS(bilangan).  → Lihat gambar 2.8



A
B
C
1

50
0,872664626
2

50
0,872664626
3



Gambar 2.8

Contoh :
C1 = RADIANS(B1)
      = 0,872664626
C2 = B1 x PI()/180    
      = 0,872664626



A
B
C
1

3,141592654
180
2

3,141592654
180
3



Gambar 2.9


A
B
C
1
9
0,412118485
0,156434465
2
9
-0,911130262
0,987688341
3
9
-0,452315659
0,15838444
Gambar 2.10

9. DEGREES : adalah fungsi untuk merubah nilai sudut dari satuan radian ke nilai sudut dengan satuan derajat. Fungsi Degrees  sama dengan mengkalikan bilangan tersebut dengan 180/ PI(), yakni kebalikan dari fungsi RADIANS.

Formula : DEGREES(bilangan)    
→ Lihat gambar 2.9

Contoh :
C1 = DEGREES(B1) = 180
C2 = B1 x 180/PI()     = 180

10. SIN, COS dan TAN : Sinus, Cosinus dan Tangen, untuk menghitung nilai Sinus, Cosinus dan Tangen dari sebuah sudut.
Formula : SIN(bilangan), COS(bilangan), TAN(bilangan).

Apabila nilai sudutnya dalam satuan derajat, maka supaya dikonversi dulu kedalam radian dengan menggunakan fungsi RADIANS atau mengalikannya dengan PI()/180.     →  Lihat gambar 2.10

SIN(RADIANS(bilangan))         atau  SIN((bilangan * PI() /180))
COS(RADIANS(bilangan))        atau  SIN((bilangan * PI() /180))
TAN(RADIANS(bilangan))        atau  SIN((bilangan * PI() /180))

B1 = SIN(A1)                  = sin radian dari 9 = 0,412118485
B2 = COS(A2)                = cos radian dari 9  = -0,911130262
B3 = TAN(A3)                = tangen radian dari 9  = -0,452315659
C1 = SIN(RADIANS(A1))         = sin derajat dari 9 = 0,156434465
C2 = COS(RADIANS(A2))       = cos derajat dari 9  = 0,987688341
C3 = TAN(RADIANS(A3))       = tan derajat dari 9  = 0,15838444


A
B
C
1
0,5
0,523598776
30
2
0,5
1,047197551
60
3
0,5
0,463647609
26,56505118
Gambar 2.11


11. ASIN, ACOS dan ATAN : sin-1, cos-1, dan tan-1 yaitu menghitung nilai radian Arc Sinus, Arc Cosinus dan Arc Tangen. Nilai yang dihasilkan ASIN dan ATAN berkisar antara –pi/2 (-1,570796327) sampai pi/2 (1,570796327). Sedangkan nilai yang dihasilkan ACOS berkisar antara 0 sampai Pi.   

Formula :   ASIN(bilangan), atau ACOS(bilangan) atau ATAN(bilangan).

Untuk menghasilkan nilai dalam satuan derjat maka gunakan fungsi Degrees, atau mengkalikan nilai tersebut dengan 180/ PI().

Formula:  DEGREES(ASIN(bilangan))atau ASIN(bilangan * 180/pi())  
DEGREES(ACOS(bilangan))     atau ASIN(bilangan * 180/pi())
DEGREES(ATAN(bilangan))     atau ASIN(bilangan * 180/pi())          

Llihat gambar 2.11
B1 = ASIN(A1)          = arc sin radian dari 0,5 = 0,412118485
B2 = ACOS(A2)         = arc cos radian dari 0,5  = -0,911130262
B3 = ATAN(A3)        = arc tan radian dari 0,5  = -0,452315659

C1 = DEGREES (ASIN(A1)) = arc sin derajat dari 0,5 = 0,007192824
C2 = DEGREES (ACOS(A2))= arc cos derajat dari 0,5  = -0,015902223
C3 = DEGREES (ATAN(A3))= arc tan derajat dari 0,5  = -0,007894398


12. IF : Adalah salah satu dari 6 fungsi logika (IF, OR, AND, NOT, TRUE dan FALSE). Untuk mendukung fungsi logika, kita harus mengerti lebih dahulu tentang operator logika, yaitu:

NO
OPERATOR
CONTOH
KETERANGAN
1
=
B1 = A1
B1 sama dengan A1
2
< 
B1 < A1
B1 lebih kecil dari A1
3
> 
B1 > A1
B1 lebih besar dari A1
4
<=
B1 <= A1
B1 lebih kecil atau sama dengan A1
5
>=
B1 >= A1
B1 lebih besar atau sama dengan A1
6
<> 
B1 <> A1
B1 tidak sama dengan A1

IF berfungsi untuk melakukan analisa perbandingan dari dua buah kondisi atau lebih, kemudian mengambil keputusan dari kondisi tersebut.

Formula = IF(kondisi;hasil jika kondisi benar; hasil jika kondisi salah).


A
B
C
1
Nama
Umur
Hasil
2
MUID
36
Dewasa
3
AFRAH
3
Kecil
4



Gambar 2.12
Contoh :
C2 = IF(B2>20;”Dewasa”;” Kecil”), artinya jika B2 lebih besar dari 20 maka C2 = Dewasa dan jika B2 lebih kecil dari 20 maka C2= Kecil.
Hasilnya = Dewasa
C3 = IF(B3>20;”Dewasa”;” Kecil”), artinya jika B3 lebih besar dari 20 maka C3 = Dewasa dan jika B3 lebih kecil dari 20 maka C3 = Kecil.
            Hasilnya = Kecil

11. VLOOKUP : Mencari data dalam range data secara vertikal.

Formula = VLOOKUP(Kriteria;Range Data;Kolom Tabel),
Lihat Gambar 2.13

E4 = VLOOKUP(E2,A1:D5,2) = Mencari data dg Argumen baris E2 dari range data A1-D5 kolom ke 2
E5 = VLOOKUP(E2,A1:D5,3) = Mencari data dg Argumen baris E2 dari range data A1-D5 kolom ke 3
E6 = VLOOKUP(E2,A1:D5,4) = Mencari data dg Argumen baris E2 dari range data A1-D5 kolom ke 4


A
B
C
D
E
1
1
MUID
2500
GRESIK

2
2
KHOIR
4500
MALANG
3
3
3
ZAHWAH
6500
MANYAR

4
4
AFROH
250
MANYAR
ZAHWAH
5
5
AUFA
478
PONDOK
6500
6




MANYAR
Gambar 2.13









12. DATE : Untuk menuliskan data tanggal, bulan dan tahun. Nilai data ini hanya berlaku mulai 1900 masehi sampai 9999.  Dengan format general, 1 Januari 1900 oleh fungsi Date dianggap 1, tanggal berikutnya 2 dan seterusnya sampai tanggal 31 Desember 9999, dianggap 2958465. 

Formula : DATE(tahun;bulan;tanggal).

Format date ini juga bisa ditampilkan dalam bentuk seperti “17 Agustus 2009”, arahkan pointer ke sel yang berisi date lalu klik kanan lalu pilih Format Cells →Custom →isi  kolom Type dg teks "dd mmmm yyyy" →OK                 
Contoh :
Sel A2=DATE(2009;12;12)    
Sel A3=DATE(2009;12;12) dengan format General
Sel A1=DATE(2009;12;12) dengan format sel "dd mmmm yyyy"
Llihat gambar 2.14

13. YEAR : Untuk mengambil nilai tahun dari data DATE.

Formula : YEAR(data_date)  

Contoh : B2=YEAR(A2)   =2009
Llihat gambar 2.14

14. MONTH : Untuk mengambil nilai bulan dari data DATE.

Formula : MONTH(data_date)  

Contoh : C2=MONTH(A2)   =8
Llihat gambar 2.14

15. DAY : Untuk mengambil nilai tanggal dari data DATE.

Formula : DAY(data_date)

Contoh : E2=DAY(A2)   =12
Llihat gambar 2.14

16. WEEKDAY : Untuk mengambil nilai hari dari data DATE. Jika hasilnya 1 berarti Ahad, jika 2 maka Senin dan seterusnya.

Formula : WEEKDAY(data_date)          

Contoh :
F2=WEEKDAY(A2)   = 4         
G2=WEEKDAY(A2) dengan format “ddd” = Rabu
Llihat gambar 2.14

17. TIME : Untuk menuliskan data waktu / jam.

Formula : TIME(jam;menit;detik)

Contoh B4=TIME(21;15;46)
Llihat gambar 2.14

18. HOUR : Untuk mengambil nilai jam dari data TIME.

Formula : HOUR(data_time)  

Contoh D4=HOUR(B4)   = 21
Llihat gambar 2.14

19. MINUTE : Untuk mengambil nilai menit dari data TIME.

Formula : MINUTE(data_time)

Contoh E4=MINUTE(B4)   = 15
Llihat gambar 2.14

20. SECOND : Untuk mengambil nilai detik dari data TIME.

Formula : SECOND(data_time)

Contoh E4=SECOND(B4)   = 46


A
B
C
D
E
F
G
1
12 Agustus 2009






2
12/08/2009
2009
8
Agustus
12
4
Rabu
3
40159






4

21:15:46

21
15
46

5







Gambar 2.14
Llihat gambar 2.14



BAB III
ARAH QIBLAT , PANDANGAN FIQH TENTANG QIBLAT,
POLEMIK ARAH QIBLAT, MENGHITUNG ARAH QIBLAT
DAN MENENTUKAN ARAH QIBLAT

Sholat menghadap ke Ka'bah disyariatkan pada tahun kedua setelah hijrah, sebelumnya menghadap ke Baitul Maqdis, Palestina. Selama di Madinah, Rosululloh, sholat menghadap Baitul Maqdis kurang lebih 16 bulan, kemudian menghadap Ka'bah pada hari Senin 17 Rojab tahun kedua hijrah. Saat itu rosululloh sholat di masjid Bani Salamah (Masjid Qiblatain). Firman Alloh dalam Al-Qur'an :

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ(البقرة 144)

Artinya : Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke qiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

ARAH QIBLAT

Qiblat berasal dari bahasa arab (القبلة) yang artinya arah. Yang dimaksud dengan qiblat adalah arah mata angin yang menuju ke Ka'bah di Makkah Al-Mukarraomah. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan kiblat sebagai arah ke Ka’bah di Makkah (pada waktu sholat) sementara Ensiklopedia Hukum Islam menerjemahkannya sebagai bangunan Ka’bah atau arah yang dituju kaum Muslimin dalam melaksanakan sebagian ibadah.

Yang dimaksud dengan arah qiblat adalah arah mata angin yang menuju ke Ka'bah di Makkah Al-Mukarraomah. Posisi ka’bah berdasarkan GPS adalah: 21° 25' 25" lintang utara, 39° 49' 39" bujur timur. Para ulama sepakat bahwa menghadap ke arah qiblat adalah menjadi syarat syahnya sholat.

Secara garis besar arah dibagi menjadi empat, yaitu Utara, Selatan, Timur dan Barat, akan tetapi untuk daerah di kutub utara maupun kutub selatan bumi arah hanya ada satu. Ketika kita berada di kutub utara, kita tidak akan mendapatkan arah kecuali arah selatan, sehingga kemanapun kita memandang yang ada hanya arah selatan. Pun juga ketika kita berada di kutub Selatan, kita tidak akan mendapatkan arah kecuali arah utara, sehingga kemanapun kita memandang yang ada hanya arah utara. Hal tersebut adalah konskuensi dari bentuk bumi yang bundar seperti bola sehingga tidak mempunyai tepi.

Dalam perspektif ilmu falak, yang dimaksud dengan arah adalah arah dengan jarak terdekat, bukan arah sebaliknya (180°). Contoh : kota Jakarta arahnya adalah sebelah barat kota Surabaya, kita tidak bisa mengatakan bahwa kota Jakarta adalah sebelah timur kota Surabaya, walaupun jika kita naik pesawat dari Surabaya ke arah timur mengelilingi dunia ini nantinya juga ketemu kota Jakarta, akan tetapi yang dimaksud arah adalah arah dengan jarak terdekat.

Secara astronomi Arah Ka'bah yang berada di kota Makkah dapat diketahui dari tempat manapun di permukaan bumi ini dengan menggunakan ilmu ukur segitiga bola atau trigonometri bola (spherical trigonometri) yakni ilmu ukur sudut bidang datar yang diaplikasikan pada permukaan berbentuk bola yaitu bumi yang kita tempati. Untuk membayangkan arah qiblat, berikut ilustrasi segitiga bola arah qiblat dalam bola dunia. Lihat gambar 3.0 dan gambar 3.1.


Illustrasi arah qiblat di era sekarang bisa dilihat dengan mudah lewat internet melalui situs-situs yang menyediakannya diantaranya:
http://www.qiblalocator.com/ atau  http://rukyatulhilal.org/qiblalocator/  atau menggunakan Google Earth. Website tersebut  diolah berdasarkan data-data digital dari satelit sehingga arah qiblat, foto lokasi, lintang dan bujur serta jarak dari Makkah bisa dilihat dengan jelas dalam bentuk foto. Melalui situs-situs tersebut kesalahan penentukan arah kiblat sebuah masjid bisa diketahui secara umum tanpa harus faham betul masalah hisab atau falak.

Berikut adalah peta arah kiblat secara global diambil dari program Accurate Times


Yang unik dari Arah Qiblat : Pada saat kita berada di titik balik ka'bah (antipodal) yakni koordinat  21° 25' 21,035" Lintang Selatan  140° 10' 25,714" Bujur Barat, kemanapun kita memandang akan menghadap ke ka'bah. Kalau misalnya di tempat tersebut dibangun sebuah masjid maka tidak lagi diperlukan mihrob karena semua arah dimasjid tersebut menghadap ke ka'bah dengan jarak yang sama dari ka'bah. Lokasi antipodal ka'bah tersebut berada di kepulauan Tuamotu 50 km sebelah timur pulau Tematagi tepat diatas lautan dengan kedalaman yang sangat dalam, jadi tidak mungkin untuk dibangun sebuah masjid di lokasi tersebut.
PANDANGAN FIQH TENTANG QIBLAT

Dalam kacamata ahli fikih tampaknya terdapat banyak ragam pendapat dalam memaknai qiblat. Penafsiran yang berbeda tersebut bermula dari pemahaman kalimat “Syatrol masjidil harom” yang ada di dalam surat Al-Baqoroh ayat 144, 149, dan 150. Memahami ayat tersebut secara garis besar terbagi menjadi 2 pendapat :

1.      Memaknai Syatrol masjidil harom merujuk pada bangunan fisik Ka’bah (ainul ka’bah), keberadaan ainul ka’bah sebagai kiblat bagi seluruh umat Islam di manapun berada di permukaan bumi merupakan hal yang mutlak. Pendukung pendapat ini adalah Syafi’iyyah dan Hanabilah.

2.      Memaknai Syatrol masjidil harom sebagai jihatul  ka‘bah. Pendukung pendapat ini adalah Hanafiyyah dan Malikyyah. Makna jihatul  ka‘bah dalam perspektif Hanafiyyah dan Malikiyyah memiliki empat variasi pemaknaan, yaitu al-jaanib, Masjidil Harom, Kota Makkah, dan Tanah Harom. Oleh karenanya, musholli tidak dikenakan takliif (pembebanan) untuk menghadap ke ainul ka’bah dalam hal pelaksanaan sholat. Adapun dalil Syar’i yang dijadikannya sebagai acuan ialah merujuk kepada makna lahir dari pada  Syatrol masjidil harom, disamping pula karena adanya hadits Nabi SAW dan pendapat dari sejumlah sahabat yang lebih longgar. Disamping itu, mereka mengajukan fakta empirik di kalangan sahabat yang tidak mempertanyakan ainul ka’bah pada saat menerima informasi perubahan arah kiblat. Adanya mashaqqoh (kesulitan) untuk menentukan posisi ainul ka’bah juga turut serta menghiasi munculnya pemahaman jihatul  ka‘bah.

Setelah dilakukan upaya tarjiih dan verifikasi terhadap ragam pandangan fuqoha, dengan menggunakan pendekatan astronomi (astronomical approach), maka didapatkan sebuah konklusi yang roojih dan relevan dalam konteks sekarang, yaitu: makna Syatrol masjidil harom sebagai ainul ka’bah.

Hal ini dikarenakan adanya pandangan dan argumentasi fuqoha yang memaknai kata Syatrol masjidil harom sebagai jihatul  ka‘bah tidak seirama dan relevan dengan kaidah-kaidah astronomis. Disamping itu, jika makna Syatrol masjidil harom tersebut dinalisa dengan pendekatan historis, maka didapatkan sebuah konklusi bahwa makna Syatrol masjidil harom tersebut sesungguhnya merujuk kepada bangunan Ka’bah, dan bukan Masjidil Harom karena saat ayat tersebut turun, di sekeliling ka’bah belum ada Masjidil Harom dalan arti bangunannya. jadi yang dimaksud Masjidil Harom tidak lain adalah bangunan Ka’bah itu sendiri.

POLEMIK ARAH QIBLAT

Meski definisi qiblat telah demikian jelas, namun kosakata arah kiblat telah menjadi sebuah problem tersendiri dalam ranah Indonesia belakangan ini. Di tengah maraknya kegiatan pengukuran arah kiblat, baik yang diselenggarakan petugas Kementerian Agama pusat dan daerah, petugas Badan Hisab dan Rukyat (BHR) di berbagai daerah serta sejumlah institusi terkait, terselip berita tentang resahnya masyarakat terkait tingginya jumlah masjid yang tidak mengarah ke kiblat, yakni sebesar 320.000 dari 800.000 masjid di Indonesia atau setara dengan 40 %. Aktivitas lempeng tektonik bumi yang mengakibatkan gempa bumi pun dianggap bertanggungjawab atas terjadinya pergeseran tersebut.

Ramainya pergunjingan pergeseran arah qiblat akibat gempa tersebut mengakibatkan munculnya Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) No. 3 Tahun 2010 tentang arah qiblat yang sebagian isinya sebagai berikut: (3). Letak georafis Indonesia yang berada di bagian timur Ka’bah/Mekkah, maka kiblat umat Islam Indonesia adalah menghadap kearah barat. MUI merekomendasikan agar bangunan masjid/mushalla di Indonesia sepanjang kiblatnya menghadap kearah barat, tidak perlu diubah, dibongkar, dan sebagainya.

Akibat fatwa tersebut timbul polemik terkait isi fatwa yang mengatakan bahwa qiblat Indonesia adalah barat, tidak usah serong ke utara maupun serong ke selatan.  Beberapa ormas-ormas Islam serta lembaga-lembaga yang terkait dengan hisab dan rukyat melakukan protes kepada MUI atas munculnya fatwa MUI No.3/2010 tersebut. Bahkan IAIN Walisongo Semarang menghelat seminar nasional arah qiblat dengan judul “Menggugat Fatwa MUI No. 03 / Th. 2010 tentang Arah Kibat”

Berdasarkan ilmu topografi kalau qiblat Indonesia adalah menghadap ke barat, maka bagi wilayah Indonesia yang berada lintang utara, arah qiblatnya akan menghadap negara Kenya, sedangkan wilayah Indonesia yang berada di lintang selatan akan mengarah ke Tanzania

Alhamdulillah setelah beberapa kali sharing dengan ormas-ormas Islam dan lembaga-lembaga yang terkait dengan geografi, dan astronomy akhirnya pada tanggal 2 Juli 2010, MUI melakukan revisi terhadap fatwa No. 3/2010 tersebut dengan mengeluarkan fatwa No. 5 Tahun 2010. Di dalam fatwa Nomor 5/2010 disempurnakan menjadi "Arah kiblat umat Islam Indonesia ke arah barat laut dengan kemiringan bervariasi sesuai posisi masing-masing kawasan".

Asumsi bahwa gempa bumi merupakan faktor penyebab berubahnya arah kiblat di Indonesia tergolong menyesatkan mengingat perubahan sudut akibat pergerakan kulit Bumi oleh gempa bumi tergolong sangat kecil. Dengan trigonometri segitiga bola yang mengambil asumsi Bumi berbentuk bola sempurna dalam kasus gempa Aceh 2004, yang secara teknis dinamakan gempa megahthrust Sumatra–Andaman 26 Desember 2004 dengan magnitude 9,15 Mw, memperlihatkan bahwa meski gempa tersebut menghasilkan perekahan kulit Bumi seluas 1.600 x 200 km2 di zona sumber gempa, yakni Kepulauan Andaman dan Nicobar serta Pulau Simeulue yang diikuti dengan pergeseran sejauh 20 m (rata–rata) ke arah barat dan barat daya, namun perubahan sudut arah kiblat yang diakibatkannya sangat kecil.

Dengan mengambil sebuah titik di Pulau Simeulue yang memiliki koordinat 2° 34’ 55,77” LU 95° 57’ 42,85” BT, maka pergeseran sebesar 20 m ke arah barat daya (azimuth 225°) hanya menghasilkan sudut penyimpangan arah kiblat  sebesar 0,374” detik derajat saja. Sudut penyimpangan sekecil ini tidak signifikan jika harus diukur kembali, mengingat seandainya di tempat tersebut berdiri sebuah masjid dengan luas 100 x 100 m2 yang sebelumnya tepat menghadap ke kiblat, akibat pergeseran tersebut maka garis shof masjid tersebut hanya perlu digeser 0,18 mm di salah satu ujungnya. Angka pergeseran ini jauh lebih kecil dibanding batas kemampuan alat ukur yang selama ini digunakan untuk keperluan konstruksi theodolite misalnya.

Bila gempa terdahsyat dalam sejarah Indonesia hanya menghasilkan sudut penyimpangan arah kiblat sedemikian kecil, maka  gempa–gempa lainnya yang secara magnitude lebih kecil tentu akan menghasilkan sudut penyimpangan yang jauh lebih kecil pula.


MENGHITUNG ARAH QIBLAT

Untuk menghitung arah qiblat, data-data yang diperlukan hanya dua yaitu koordinat Ka’bah dan koordinat lokasi perhitungan (markas). Adapun koordinat ka’bah berdasarkan GPS adalah: 21° 25' 25" lintang utara, 39° 49' 39" bujur timur. Dan untuk data koordinat markas perhitungan bisa didapatkan dari buku buku geografi, seperti Atlas Indonesia dan Dunia, Taqwim Standar Indonesia, Tabel Geografis Kota-kota Dunia dan lain-lainnya.

Apabila kita kesulitan mencari data lintang dan bujur tersebut, maka kita bisa mengukurnya dengan bantuan GPS (global position system) alat navigasi berbasis satelit yang didesain untuk mengkalkulasi lintang dan bujur, serta ketinggian suatu tempat di permukaan bumi ini. Bagi yang memakai komputer bisa menggunakan Google EarthContoh menggunakan Google Earth Lihat gambar 3.3

Gambar 3.3


Cotan B = Cotan b Sin a - Cos a Cotan c
               Sin c

Algoritma :
Sisi a (a)    = 90° – lintang markas
Sisi b (b)    = 90° – lintang ka'bah
Sisi c (c)    = bujur markas – bujur ka'bah

Aq            = tan-1 (1/tan b x sin a/sin c – cos ax 1/tan c)
Az = Jika c lebih kecil dari 0 maka Az = 90 + Aq
        Jika c lebih besar dari 0 maka Az = 270 + Aq

Contoh perhitungan arah qiblat menggunakan formula Excel dengan markas perhitungan Masjid Agung Surabaya

Data ka’bah     : Lintang = 21° 25' 25" LU     Bujur =   39° 49' 39" BT
Data lokasi      : Lintang =   7° 20' 11,91" LS             Bujur = 112° 42' 54,47"  BT

Kemudian ikuti langkah-langkah berikut ini:

  1. Memasukkan data lintang dan bujur.

a.       Masukkan data lintang Ka’bah kedalam sel C4, D4, dan E4 (C4=derajat, D4=menit, E4=detik).

b.      Masukkan data bujur Ka’bah kedalam sel C5, D5, dan E5 (C5=derajat, D5=menit, E5=detik).

c.       Masukkan data lintang markas kedalam sel C6, D6, dan E6 (C6=derajat, D6=menit, E6=detik). Jika lintang markas berada di sebelah selatan katulistiwa, maka setiap input data lintang ditambahi dengan "-" (mines), contoh lintang 7° 20' 11,91" LS maka input datanya = -7° -20' -11,91"

d.      Masukkan data bujur markas kedalam sel C7, D7, dan E7. Jika bujur markas berada di sebelah barat kota Greenwich, maka setiap input data bujur ditambahi dengan "-" (mines).

e.       Perlu diketahuai bahwa data lintang dan bujur diatas masih dalam format derajat, ubahlah menjadi desimal, karena di dalam Excel tidak mengenal pola perhitungan dalam format derajat. Arahkan pointer kedalam sel F4 untuk merubah data lintang menjadi desimal dengan formula berikut :
F4=C4+D4/60+E4/3600. = 21,42361111

» Lakukan hal yang sama terhadap data bujur Ka’bah, lintang tempat serta bujur tempat, sehingga semua data lintang dan bujur menjadi desimal.

  1. Karena  fungsi trigonometri menggunakan satuan sudut radian, bukan derajat, maka dalam setiap penggunaan sin, cos dan tan supaya mengkalikannya dengan PI()/180. Untuk memudahkannya maka buatlah range name dari sebuah sel, dimana isi sel tersebut adalah PI()/180. Arahkan pointer ke sel J4 lalu isi dengan PI()/180, kemudian klik kanan lalu pilih Name a Range lalu beri nama dengan drlalu klik OK.

  1. Menghitung ketiga sisi dari segitiga bola arah qiblat, yakni sisi a, sisi b, dan sisi c.

a.       Sisi a (a) = 90°–lintang markas. Arahkan pointer ke F9 lalu isi dengan formula berikut : F9=90-F6      = 97,33664167

b.      Sisi b (a) = 90°–lintang ka'bah (21,42361111). Arahkan pointer ke F10 lalu isi dengan formula berikut :
F10=90-21,42361111       =-111,4236111

c.       Sisi c (c) = bujur markas – bujur ka'bah (39,8275). Arahkan pointer ke F11 lalu isi dengan formula berikut :
F11=F7-39,8275   =72,88763056

  1. Menghitung arah qiblat (Aq) dengan rumus sebagai berikut:
tan-1(1/tan b x sin a/sin c – cos a x 1/tan c).

Arahkan pointer ke F13 lalu isi dengan formula berikut : ATAN(1/TAN(F10*dr)*SIN(F9*dr)/SIN(F11*dr)-COS(F9*dr)*1/TAN(F11*dr))*180/PI()                                =24,06079055

  1. Mengkonversi arah qiblat kedalam azimut (Az). Lihat nilai sisi c (c),
Jika c lebih kecil dari 0 maka Az = 90 + Aq
Jika c lebih besar dari 0 maka Az = 270 + Aq

Arahkan pointer ke F14 lalu isi dengan formula berikut :
=IF(F11<0;F13+90;F13+270)            =294,0607905
=294° 03' 39”

Kesimpulannya azimut arah qiblat Masjid Agung Surabaya adalah 294,0607905 (294° 03' 39”), yakni 24,0607905 (24° 03' 39”) dari arah barat ke utara


MENENTUKAN ARAH QIBLAT

Setelah azimut arah qiblat sudah kita ketahui, selanjutnya adalah mengukur dan menentukannya. Yang dimaksud dengan mengukur dan menentukan azimut arah qiblat pada dasarnya adalah menentukan arah utara sejati terlebih dahulu, baru kemudian mengkalibrasikannya ke arah qiblat yang dimaksud. Ada banyak cara dan metode untuk menentukan arah utara sejati, mulai dari kompas yang sederhana, tongkat istimewa sampai dengan alat survey dan navigasi yang berbasis satelit. Berikut ini beberapa cara untuk menentukan arah qiblat :

1.      KOMPAS

Dari beberapa cara untuk menentukan arah utara sejati, kompas adalah pilihan yang paling mudah dijangkau, khususnya bagi yang berkantong tipis dan juga mudah pengaplikasiannya bagi yang masih amatiran di bidang hisab falak.  Dari beberapa macam kompas, secara garis besar dibagi menjadi dua, yang pertama adalah Kompas Magnetik dan yang kedua adalah Kompas Digital.

A.    KOMPAS MAGNETIK.

Ada banyak macam jenis kompas magnetik dijual di pasaran. Kompas magnetik bekerja berdasarkan pengaruh medan magnet bumi yang membuat jarum magnet yang terdapat pada kompas magnetik selalu menunjuk ke arah Utara dan Selatan. Dengan harga yang murah kita sudah bisa memiliki kompas namun dengan ketelitian yang rendah pula. Kompas magnetik yang memiliki ketelitian cukup tinggi harganya cukup mahal diantaranya jenis Suunto, Ushikata, Marine, Tamaya dan lain lain.
         
Beberapa model Kompas Magnetik

Pengukuran dengan kompas sangat tidak dianjurkan jika bisa melakukan pengukuran dengan media  yg lainya karena karakter bangunan sekarang cenderung terbuat dari beton dan lagi banyaknya medan listrik di sekitar kita, dimana akan sangat mempengaruhi penunjukan jarum kompas. Kompas magnetik ini mungkin masih relevan jika digunakan untuk daerah yang karakter bangunannya terbuat dari kayu dan jauh dari pabrik serta jaringan listrik. Berikut beberapa kondisi yang mempengaruhi kesalahan penunjukan jarum kompas


Deviasi Magnetik

Deviasi adalah kesalahan baca jarum kompas yang disebabkan oleh pengaruh benda-benda logam disekitar kompas, misalnya besi, mesin atau pengaruh alat-alat elektronik yang mengandung medan magnet seperti Dinamo ListrikHandy Talkydan Handphone, terutama saat transmit. Deviasi dapat diabaikan bila kita yakin benda-benda berpengaruh tersebut tidak ada di sekitar kompas.

Variasi Magnetik

Banyak orang yang mengira bahwa ujung jarum kompas menunjukkan arah utara sejati (True North), padahal tidaklah demikian. Jarum utara kompas menunjukkan arah utara magnetis (Magnetic North). Jarum kompas selalu mengikuti arah medan magnet bumi, karena kompleksnya pengaruh yang ada di permukaan bumi di setiap tempat, arus magnet bumi tidak selalu menunjukkan arah utara sebenarnya. Sudut antara utara magnet (Magnetic North) dengan utara sebenarnya (True North) dinamakan Variasi (Variation atau Deklinasi Magnetis/Magnetic Declination). Nilai variasi ini selalu berbeda disetiap waktu dan tempat. Lokasi magnet di Kutub Utara selalu bergeser dari masa ke masa.

Kutub utara magnet Bumi pertama kali ditemukan pada tahun 1831 dan ketika diukur kembali pada tahun 1904, ternyata letaknya telah bergerak sejauh 50 kilometer. Penelitian terakhir yang dilakukan oleh The Geological Survey of Canada melaporkan bahwa posisi magnet ini bergerak kira-kira 40 km per tahun ke arah barat laut.
Untuk mengetahui berapa nilai deklinasi magnetik suatu tempat di muka bumi ini berikut peta magnetic variation secara global


Untuk lebih detail dalam membaca peta deklinasi tersebut kita bisa mengunjungi website berikut: http://www.magnetic-declination.com/ Dengan bantuan web tersebut yang telah terintegrasi dengan Google Earth kita dengan mudah bisa menjelajah permukaan bumi ini layaknya menggunakan Google Earth, kalau sudah ketemu lokasi yang kita maksud, tinggal klik akan muncul nilai deklinasinya dalam format derajat dan menit.

Misalnya kita arahkan kursor ke kota Gresik lalu menuju Masjid Agung Gresik dengan koordinat 112° 36' 50.4 BT, 7° 9' 59.6 LS lalu klik kiri satu kali akan muncul nilai deklinasi 1° 19' positive, artinya arah utara yang ditunjuk kompas adalah 1° 19’' ke arah timur dari titik utara sebenarnya.

Alat Bantu Menentukan Qiblat Dengan Kompas Magnetik

Karena kebanyakan ukuran diameter lingkaran kompas magnetik tidak lebih dari 15 cm, sehingga menyulitkan pembacaan nilai sudutnya.  Untuk memudahkan pembacaan nilai sudut arah qiblat dibutuhkan alat bantu untuk memudahkan pembacaan sudut tersebut. Salah satu caranya adalah dengan membuat  busur lingkaran yang agak besar, misalnya 50 cm

Setelah busur besar tersebut siap berilah benang kira-kira 1.5m yang ujungnya dikaitkan di tengah-tengah lingkaran. Tempelkan kompas magnetik sedekat mungkin dengan titik utara busur lingkaran tersebut dengan lem.

Ketika memasang kompas ditempatnya usahakan garis utara-selatan kompas sesuai/ persis dengan garis utara/selatan busur lingkaran. Kalibrasikan arah utara busur besar tersebut dengan arah utara kompas dengan memutar perlahan-lahan busur besar sampai benar-benar pas. Kalau arah utara busur sudah terkalibrasi dengan benar, kita tinggal menarik benang dari tengah lingkaran kearah yang kita kehendaki. Misalnya arah qiblat Masjid Agung Gresik 294° 02' 49 maka kurangilah nilai azimut arah qiblat tersebut dengan deklinasi magnetik Masjid Agung Gresik yang nilainya 1° 19', hasilnya = 292° 43' 49

B.     KOMPAS DIGITAL.

Perkembangan teknologi modern banyak memunculkan alat-alat yang membantu kita dalam kehidupan sehari-hari, termasuk diantaranya kompas digital.  Kompas digital bekerja berdasarkan informasi dari satelit GPS (Global Positioning Sistem) yang diolah dengan perhitungan yang rumit sehingga menghasilkan data koordinat dan arah qiblat lokasi dengan presisi. Kini telah banyak dibuat model kompas dengan menggunakan sistem digital. Bahkan sekarang, telepon mobile pun sudah banyak yang dilengkapi kompas digital tersebut.



A.    QIBLAT DAY.

Menggunakan bayangan matahari pada saat Qiblat Day (hari penentuan arah qiblat),Yaumu Roshdil Qiblah.  Atau istilah lain Istiwaul A’dhom. Yakni ketika matahari berada tepat diatas ka’bah. Dalam setahun, matahari tepat diatas ka’bah terjadi dua kali yaitu pada tanggal 28 Mei pukul 16.18 WIB (12:18 waktu Saudi) dan pada tanggal 16 Juli pukul 16.27 WIB (12:27 waktu Saudi), kecuali pada tahun kabisat maka hari penentuan arah qiblat maju satu hari yakni 27 Mei dan 15 Juli. Pada saat itu semua bayangan benda yang berdiri tegak lurus akan menghadap ke arah ka’bah.      


Seperti kita ketahui bahwa bayangan matahari terpendek bahkan tidak ada sama sekali adalah ketika posisi matahari berada di titik zenit, sehingga bagi penduduk Makkah dan sekitaranya, momen Qiblat Day ini hampir tidak bisa dijadikan patokan untuk mengetahui arah qiblat.

Pada saat Qiblat Day, matahari benar-benar diatas Ka’bah sehingga benda yang berdiri tegak di sekitar Ka’bah (Makkah) tidak menimbulkan bayangan sama sekali. Semakin dekat dengan Ka’bah semakin sulit menggunakan momen Qiblat Day ini.

Tidak semua wilayah bisa memanfaatkan fonemena Istiwaul A’dhom yang terjadi di kota Makkah ini. Penentuan qiblat pada saat Qiblat Day ini hanya bisa digunakan oleh kaum muslimin dari tiga benua yaitu Asia, Afrika dan Eropa, sementara Amerika dan Australia tidak bisa memanfaatkan momen ini karena pada saat tersebut di Amerika matahari belum terbit dan di Australia matahari sudah tenggelam di ufuk barat. Wilayah Indonesia juga bisa memanfaatkan fonemena ini kecuali Indonesia bagian timur.

Secara umum negara-negara yang bisa memanfaatkan qiblat day ini hanya negara yang perbedaan waktunya tidak lebih dari 5 jam dengan waktu Makkah, atau bujurnya tidak lebih dari 90º dari Makkah ke barat mupun ke timur. Berikut peta negara-negara yang bisa menggunakan Yaumu Roshdil Qiblah.  Lihat gambar 5.1

Gambar 5.1

Fenomena Istiwa Utama (Istiwaul A’dhom) terjadi akibat gerakan semu matahari yang
disebut gerak tahunan matahari (musim). Matahari terlihat dari bumi mengalami pergeseran 23,5˚ LU sampai 23,5˚ LS. Pada saat nilai azimuth matahari sama dengan nilai azimuth lintang geografis sebuah tempat maka di tempat tersebut terjadi Istiwa Utama yaitu melintasnya matahari melewati zenith. Dalam bahasa sederhana Istiwa Utama adalah saat Dhuhur dimana nilai deklinasi matahari sama dengan lintang tempat.

Dalam bahasa Jawa peristiwa ini disebut dengan Tumbuk. Tumbuk terjadi di wilayah Jawa juga dua kali. Yang pertama antara tanggal 28 Februari sampai 4 Maret, sedangkan yang kedua antara 9 Oktober sampai 14 Oktober. Pada saat tumbuk yang kedua matahari sangat menyengat karena bertepatan pada musim kemarau.



0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More